Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sunday, 24 February 2008

Download Film AYAT-AYAT Cinta

- Genre : Drama Religius Roman/Percintaan
- Pemain : Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Sazkia Mecca, Melanie Putri, Carrisa Putri, Surya Saputra, Oka Antara
- Sutradara : Hanung Bramantyo
- Penulis Naskah : Salman Aristo & Ginatri S. Noer dari Novel Karya Habiburrahman El Shirazy
- Produser : Manooj Punjabi
- Rumah Produksi : MD Pictures
- Durasi : -
- Klasifikasi Penonton : 13 Tahun Keatas (13+)
- Tanggal Rilis : 28 Februari 2008
- Sinopsis :

Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril) adalah mahasiswa S-2 di universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Selama ini perempuan yang dikenal dekat olehnya hanya ibu dan neneknya. Fahri memang sempat naksir perempuan di sekolahnya, namun apalah arti cinta monyet yang dipengaruhi oleh hormon testoteron, seorang remaja puber?


Menikah! Fahri memang ingin menikah dengan perempuan shalehah agar menyempurnakan setengah agamanya. Namun, untuk mencari bidadari itu Fahri belum sempat. Hidup Fahri penuh dengan target. Keluarganya telah mengorbankan nyaris segalanya agar dia bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Biaya untuk kuliah di Al-Azhar, Mesir di peroleh dari hasil menjual sawah warisan kakeknya. Untuk itu, Fahri membuat peta hidup, 2 tahun selesai master, 4 tahun selesai doktor dan 4 tahun selanjutnya menjadi guru besar. Menikah ketika dia menulis tesis magister. Berarti sekitar waktunya semakin dekat, namun siapa perempuan beruntung tersebut?

Ada cerita mengenai Maria Girgis (Carissa Putri), Kristen Koptik yang berperilaku amat Islami, senang membaca Al-Quran, bahkan hafal surat Maryam dan Al-Maidah. Lalu, ada Nurul (Melanie Putri), mahasiswi Indonesia di Al-Azhar juga. Pintar, baik hati, cantik, sibuk menjadi ketua Wihdah, namun masih ingin mengajar anak-anak membaca Al-Quran, terlebih lagi putri tunggal seorang pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Nurul diam-diam mencintai Fahri. Namun, tak pernah memiliki keberanian untuk mengatakan atau memberi sinyal kepada Fahri.

Kemudian Noura (Sazkia Mecca), tetangga depan flat Fahri, adalah perempuan cantik yang mengalami kekerasan dalam rumahnya oleh ayahnya, Bahadur. Sejak Fahri menolongnya keluar dari rumah itu dengan bantuan Maria dan Nurul, Noura pun jatuh cinta dan mengirimkan surat cinta kepadanya.

Namun, masih ada lagi… Fahri mengenal gadis terakhir ini di metro. Fahri menolongnya dari amukan warga Mesir, karena gadis bercadar ini tak tega dan memberikan kursinya kepada seorang ibu warga Amerika yang kepanasan. Sedangkan penumpang yang lain menganggap jika sekarang waktunya mereka memberikan pelajaran bagi turis Amerika itu atas apa yang dilakukan oleh negaranya.

Dan, siapakah perempuan itu? Bagaimana dengan perempuan-perempuan lain yang menaruh hati pada Fahri? Bagaimana dengan akhir cerita cinta yang religius ini? (Courtesy of RuangFilm)

Download Rapidshare :

CD 1

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5

CD 2

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5

CD 3

Part 1 | Part 2

Gunakan hjsplit untuk menggabungkan.

Download mirror lokal Indowebster :

CD 1 | CD 2 | CD 3






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Wednesday, 6 February 2008

Soeharto Wafat di Mata Pelarian Politik

Soeharto telah pergi selamanya. Saya terima berita itu lewat sms dari kawan yang ada di Indonesia, saat jam Moskow menunjuk angka 09.00 pagi, tepat pada 27 Januari 2008. Sejurus kemudian, sms kembali datang. Kali ini datang dari Malaysia. Isinya kurang lebih sama. Mereka mengabarkan bahwa Soeharto baru saja meninggal.

Tidak ada yang istimewa dari meninggalnya Soeharto, kecuali bahwa dia adalah pribadi yang sarat dengan kontroversi; dicaci sekaligus dipuji, dihujat sekaligus disanjung. Ya, Soeharto adalah pemimpin diktator dengan tangan besi dan strateginya yang mampu berkuasa hingga tiga puluh tahun lebih.

Tetapi, bagi korban ketidakadilan politik Soeharto, kematian sang mantan presiden tetap menyisakan kenelangsaan yang amat dalam. Meski dalam ketegaran dan keniscayaan, kepergian abadi Soeharto menjadi berita muskil yang tetap menarik untuk dituntaskan, terlebih bagi Moskow, kota yang selama ini menjadi pelarian lawan-lawan politik sang diktator.


Soeharto, Moskow, dan Mahasiswa Kepergian Soeharto membuat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow menjadi sibuk menerima karangan bunga belasungkawa dari semua kedutaan asing di Moskow. Ternyata, kepergian sang diktator melahirkan banyak empati dan kesedihan berbagai negara.

Paling tidak jika bunga masih dianggap sebagai simbol penghormatan dan bukan basa-basi politik diplomasi kenegaraan. KBRI melaksanakan salat gaib pada 28 Desember, pukul 13.00 waktu Moskow, untuk mendoakan sang mantan presiden.

Akan tetapi, perasaan mendalam yang dirasakan kedutaan asing di Moskow dan orang-orang KBRI ternyata tidak sepenuhnya dirasakan mahasiswa Indonesia di Rusia. Tidak ada ritual, tidak ada doa, juga tidak ada gempita sebagai tanda duka atau "bahagia" dari mahasiswa atas kepergian sang mantan presiden. Bukan mereka tidak tahu kabar, tetapi memang mereka tidak mau tahu atas matinya sang bapak pembangunan.

"Orang sudah meninggal, ngapain juga dibicarakan," itulah ungkapan singkat yang saya peroleh dari salah seorang kawan mahasiswa yang sedang belajar di Moskow ketika saya menawarkan untuk mengajak diskusi tentang Soeharto.

"Sudahlah kita tidak usah bikin diskusi segala. Kita sekarang lagi musim libur nih. Pingin nyantai lha," ungkap mahasiswa lain.

Tentu itu menarik, mengingat Soeharto dan mahasiswa Indonesia memiliki sejarah politik yang panjang. Soeharto naik singgasana dan berkuasa, salah satunya, karena gerakan mahasiswa angkatan 1966. Soeharto juga jatuh dan tumbang, salah satunya, disebabkan gerakan mahasiswa angkatan 1998.

Apakah apatisme mahasiswa Moskow sebagai bentuk kebencian atas sang mantan presiden? Ataukah ini memang telah menjadi ciri mahasiswa kita sekarang, yang memang tidak mau peduli dengan peristiwa yang terjadi pada negaranya? Bisa jadi keduanya; kebencian sekaligus tak peduli karena letih.

Bagaimanapun, Soeharto menyisakan kebencian bagi mahasiswa Indonesia, khususnya angkatan 1998. Selama berkuasa, Soeharto telah melakukan tindakan represif dan tak jarang menangkap mahasiswa dan memenjarakannya.

Tentu, tindakan sang mantan presiden masih membekas dalam ingatan mahasiswa Indonesia. Dia menjadi dendam politik yang teramat panjang sehingga tidak lagi mampu melahirkan doa atau empati saat Soeharto pergi untuk selamanya.

Sementara itu, proses hukum Soeharto yang sekarang sedang berlangsung tidak lebih dari sekadar isu politik bagi partai politik untuk menghadirkan respek publik menjelang 2009. Dia hanya menjadi sinetron yang bisa dibaca ending ceritanya, tidak menghasilkan akhir bagi keadilan rakyat. Itulah yang membuat mahasiswa tidak lagi peduli (apatis) karena tuntutan yang diajukan atas kasus hukum Soeharto akan selalu patah oleh sirkus politik di Senayan. Mereka telah letih.

Orang-Orang yang Kalah

Kematian Soeharto ternyata juga menjadi dendam lirih tersendiri bagi eks pelarian politik di zamannya. Meninggalnya dia menjadikan kepasrahan yang berharap balas pada sakit hati yang mereka terima. Meski tidak ambisius, orang-orang yang tersingkir secara politik di zaman sang presiden berkuasa berharap keadilan pada kekuatan dari segala kekuatan.

Lihat, SMS yang saya terima dari salah seseorang bapak yang tersingkirkan di zaman Orde Baru yang sekarang tinggal di Moskow, ketika dia bicara tentang kabar meninggalnya Soeharto.

"Komentar apalagi, tak ada yang abadi. Semua akan berubah, baik atau buruk, kalau tidak, kan berada di tempat, sama juga dengan mati. Kalau dia percaya agama biar dia selesaikan dengan Tuhan. Kekuatan pihak mana yang lebih kuat di antara yang masih hidup. Inilah yang menentukan perkembangan selanjutnya."

Begitulah, betapa lirih dan berharap sang bapak terhadap nasibnya yang selama ini "dibunuh" Soeharto. Meski tidak ada kata dendam, sang bapak ingin ada sejarah yang lebih adil atas tindakan-tindakan Soeharto yang selama ini diterimanya. Dia sadar tak berkuasa secara politik untuk melakukan langkah hukum atas perbuatan Soeharto, tetapi dia masih berharap pada rezim sekarang meski ada keraguan dalam dirinya.

Akan tetapi, dalam ragu, sang bapak masih percaya bahwa ada TUHAN yang akan memberikan rasa keadilan. "Kalau dia percaya agama biar dia selesaikan dengan TUHAN," katanya lirih. Jika demikian adanya, sang bapak masih yakin agama mampu menyelesaikan segalanya, termasuk ketidakadilan yang selama ini diterimanya.

Apakah kepasrahan sang bapak terhadap Tuhan adalah bentuk ketawakalan atau hanya perlawanan orang-orang yang kalah, setelah sekian lama dia hidup dalam pengasingan? Bisa jadi, apa yang diungkapkan sang bapak merupakan bentuk kepercayaan dia pada Tuhan yang akan, dan pasti, bisa menyelesaikan semuanya.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Sunday, 30 December 2007

Resiko Mutiara Memilih Backstreet

"Orang yang dapat menyakiti hati kita, ternyata, bukan hanya orang yang membenci kita. Tetapi, juga orang yang begitu dekat dengan kita. Bahkan, orang yang sangat kita sayangi."

Cinta yang berlebihan ternyata mampu membudakkan pemiliknya. Seperti aku, remaja yang duduk di kelas 2 SMA. Kenalkan, namaku Mutiara. Kehidupanku berubah setelah aku berkenalan dengan ketua Pramuka di sekolahku, Fery. Takdir menyatukan kami, aku terpilih menjadi wakilnya.

Sejak itu, kekompakan pun terus terjalin di antara kami berdua. Tak lama, kami memutuskan untuk berpacaran. Meski berbeda kelas, dia anak IPS dan aku anak IPA, kami mengusahakan agar selalu bertemu. Namun, hanya di ekskul Pramuka kami bisa bersama-sama. Jadi, tak heran kalau aku sangat mengutamakan Fery.

Kedekatan kami akhirnya tercium oleh anggota Pramuka. Saat mereka membuka ponsel Fery, fotoku yang jadi wallpaper. Kontan, gosip pun merebak. Padahal, sahabatku adalah anak rohis yang tahu betul batas pergaulan antara pria dan wanita. Maka, aku tak mau mereka mengetahui hubunganku. Apalagi orang tuaku. Mereka melarang keras tradisi berpacaran.


Selama bersama Fery, aku begitu terpesona dengan sikapnya yang menyayangiku, melindungiku, setia padaku. Bagiku, dia adalah pria yang sempurna. Setiap sore, Fery menelepon ke rumah. Setiap sore itu pula, aku berbohong pada ibuku.

Aku bilang, dia hanya teman. Setiap minggu, Fery pun selalu mengajakku nge-date. Aku bilang pada orang tua, aku cuma berkunjung ke rumah teman wanita. Padahal, kami janjian di belakang gang rumah.

Aku menghemat uang jajan, khusus untuk membelikan kado saat Fery ulang tahun atau setiap momen istimewa kami. Tugas sekolah pun rela tak kukerjakan demi mengisi diary curhat kami berdua sambil berbalas SMS-SMS-nya. Saat orang tua ada kerjaan banyak dan menyuruhku menjaga rumah, aku meminta Fery ke rumahku dan kami pun menghabiskan waktu bercanda di ruang tamu.

Tak ada SMS yang kubalas, selain dari Fery. Seluruh waktuku, tenagaku, dan uangku kuberikan hanya pada Fery. Para sahabat yang melihat perubahan sikapku mencoba mengingatkan. Namun, aku semakin marah dan memusuhi mereka.

Di sisi lain, aku mempunyai sahabat bernama Aini dan Erick, yang kebetulan juga berpacaran. Aini berkata bahwa teman rohisku itu tak pantas dijadikan sahabat. Dia juga bilang bahwa orang tuaku tidak benar karena melarang berhubungan dengan pria yang kucintai. Aku percaya, Aini sahabatku. Aku pun semakin menikmati hubungan backstreet ini.
***
Satu tahun berlalu. Saat Fery kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta, kejenuhan mulai melanda. SMS-ku jarang di balas, meski sudah kukirimi pulsa. Ketika aku sedang punya masalah yang harus diceritakan, dia tak bisa karena sibuk. Ketika libur dan kuajak ke mal, dia bilang lelah.

Setiap malam aku menangis, memikirkan dia. Saat itulah, aku mencoba SMS Erick, pacar Aini. Erick menyarankan agar aku putus dan ikut orang tua. Tapi sungguh, aku tak bisa kehilangan pria belahan hatiku. Tak pernah sedetik pun aku hidup tanpa memikirkannya. Memikirkan semua yang sudah kukorbankan untuknya, termasuk keharmonisan keluarga. Tapi, apa balasannya?

Tahun ini, semua tes kuliah yang kuikuti tak ada yang lolos. Aku semakin stres. Orang tuaku bersikap dingin, sahabat rohis terasa jauh sekali, Aini menuduhku merebut Erick. Sementara Erick? Tetap tak peduli. Sungguh keadaan ini membuatku ingin mati saja.

Namun, di saat sempit seperti ini, aku ingat. Masih ada Tuhan. Aku mengadu pada-Nya, memohon agar diberi petunjuk. Esoknya, teman rohisku SMS. Mereka meminta maaf karena telah berburuk sangka padaku.

Sebenarnya, aku senang mereka kembali. Tapi, tak ayal aku bertanya dalam hati. Mengapa mereka semudah itu meminta maaf? Bukankah dulu aku yang memusuhi mereka?

Ternyata, jawabannya membuatku sangat terkejut. Ada yang melihat Fery memboncengi seorang wanita menuju tempat kuliahnya. Benar-benar bukan jawaban yang kuharapkan. Kepalaku pusing, aku lemas seperti disambar petir. Aku diam sambil mencubit lenganku sendiri. Apakah aku bermimpi?

Aku membawa ponsel dan berlari keluar untuk menanyakan kebenaran tersebut. Sungguh aku bahagia mendengar suaranya, tapi semakin sakit membayangkan dia bersama wanita lain. Saat kali pertama kutanya, dia tak mengaku. Tapi saat kuminta Fery bersumpah, dia juga tak mampu.

Akhirnya, Fery mengakui. Tak terasa, air mataku pun mengalir. Kucoba untuk tegar dengan menanyakan alasannya mengkhianatiku. Fery menjawab, dia lelah harus terus sembunyi dan terus berdusta pada semua orang. Detik itu juga, aku putus. Kuakhiri telepon dengan cepat. Kuhapus air mata yang tak mampu berhenti.

Aku mencoba menenangkan diri dengan pergi ke taman. Aku duduk sendiri, tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku pun mulai merenung dan introspeksi diri. Cinta yang selama ini kupuja dan kubanggakan ternyata menghambat masa depanku.

Hatiku hancur berkeping-keping. Sungguh kubenci padanya. Lantas, aku teringat dosaku pada orang tua yang selalu kubentak, kubantah, dan kubohongi. Juga, dosaku pada sahabat-sahabat rohisku. Aku semakin menyesal. Aku semakin terhina. Apa ini teguran Tuhan?

Sejak itu, aku berusaha melupakan Fery. Kuberikan barang-barang pemberiannya semasa pacaran dulu kepada orang lain. Fotonya yang enggan kusimpan kukembalikan lewat pos. Aku ingin bertobat pada Tuhan atas semua dosa-dosaku. Sekarang, aku fokus mengejar kuliah tahun depan.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Wednesday, 26 December 2007

Ibu Meninggal

CERPEN oleh HUDAN HIDAYAT


HINGGA hari ini aku masih belum percaya ibu telah meninggal. Keluargaku memang belum pernah kehilangan. Kini aku begitu merindukan ibu. Menyesal belum sempat membuat ibu bahagia.

Kehilangan itu membuatku begitu hampa. Segalanya seolah menjadi tak berjiwa. Aku seakan tak mendengar bunyi apa pun, saat pulang ke rumah dan mengepak barang yang akan kubawa. Anak-anak dan istriku sudah siap dengan bawaan mereka. Tapi aku seolah kehilangan pijakan. Kedua kakiku rasanya melayang. Aku seolah meluncur ke dalam lubang yang tak bisa kuhentikan.

Semua kenangan masa kecilku kuingat kembali. Waktu muda dan saat aku masih kecil, ibu begitu cantik. Lembut, meski keras dalam sikap. Aku bangga punya ibu seperti ibuku. Waktu ayah miskin aku membantu ibu jualan beras di Pasar Enam Belas. Aku juga sering menagih orang yang kredit dengan ibuku. Semua tugas itu hanya aku yang melakukannya. Entah mengapa ibu tidak pernah menyuruh kakak atau adik-adikku. Tapi justru itu yang membuat aku dekat dengan ibu. Waktu ibu sakit aku kasihan sekali. Aku ingin membantunya tapi tidak bisa: sakit ibu sudah parah. Aku tidak pernah acuh pada ibu. Memang kuakui aku tumbuh dengan pikiranku sendiri dan sibuk dengan diriku sendiri. Mungkin ibu berpikir aku seolah tidak peduli. Padahal dalam hati aku selalu sayang ibu. Selalu mengingatnya. Kini ibu sudah tiada. Sudah benar-benar hilang dari keluarganya.



Lain sekali rasanya kematian itu. Sore itu kami mengaji di makam ibu. Ada bentangan daun dan kembang. Juga bunga yang ditabur di makam. Sejam yang lalu aku ikut turun ke liang itu, membaringkan tubuh ibu. Meletakkan wajahnya ke dalam lubang yang tepinya digali lagi, membentuk kedalaman sendiri. Lubang yang miring. Entah mengapa saat itu aku teringat sebuah kisah: lubang dalam lubang, yang tadinya aku belum begitu mengerti maknanya. Tapi, menghadapi lubang kubur ibu, serta lubang yang digali lagi dalam lubang kubur ibu, aku jadi benar-benar mengerti kisah itu: lubang cahaya. Ya, kurasakan lubang ibu adalah lubang cahaya. Tempat di mana seorang perempuan yang baik budi semasa hidupnya terkubur di sana. Wajahnya terbenam dalam lubang itu, masuk ke dalam liang yang aku sendiri ikut menggali dan menanam tanah penyangga tubuhnya. Aku juga membukakan tali-tali yang mengikat kepala ibu, tubuh, dan kaki ibu. Kubuka ikatan-ikatan tali itu. Seolah membuka ikatan masa lalu, di mana aku terbenam di dalamnya. Sejenak melintas saat aku menghentak-hentakkan kaki, maju mundur meminta uang pada ibu di jalan. Ibu marah dengan sayang. Wajahnya merajuk lalu tersenyum. Diraihnya tubuhku dan diciumnya kepala dan mukaku. Anakku sayang,anakku sayang, kata ibu. Hanya itulah yang keluar dari mulut ibu. Ia memandangi anaknya. Seolah Tuhan memandangi dunia. Duh, perempuan yang baik hati, kini kau telah pergi. Telah benar-benar meninggalkan kami.

Kini aku hanya memiliki seorang ayah. Aku harap ayahku selalu sehat dan kuat. Tidak sakit-sakitan seperti ibu. Aku sayang sekali denan ayahku. Ayahlah yang mendidikku dalam banyak hal. Caranya mendidikku luar biasa: aku dibiarkannya melakukan apa saja yang aku suka, tidak pernah melarang. Dulu aku memimpikan ayahku dua kali: ayah begitu marah padaku dan meninggal dalam mimpiku. Aku begitu sedih sampai terbangun. Tercekam dengan mimpiku. Masih tersisa wajah ayah yang marah. Aku tidak begitu mengerti apa yang membuat ayah sangat marah. Tetapi lelaki tegas dan gagah itu memandangku dengan raut membesi. Jiwaku menggigil melihatnya. Ayah, apa salahku sampai kau marah begitu? Ini anakmu, yang sangat sedih karena bermimpi ayah telah mati. Tapi ayah tetap diam. Wajahnya sukar dilukiskan: terpaku di tempatnya, matanya seakan mengeluarkan api. Membakar tubuh dan jiwaku. Membuat aku putus asa, sedih dan berduka. Ada apa Ayah? Mengapa kau demikian marah padaku? Apakah salah anakmu ini?

Entah mengapa aku mengenang mimpi itu, saat adik perempuanku menelepon, mengabarkan ayah sakit di Tanjung Balai Asahan. Dalam telepon adikku menangis. Suaranya terbatabata. Ayah sakit keras. Dibawa naik kapal dari India. Hanya ditemani seorang kawannya. Aku terdiam. Segera kuingat kelompok jamaah kawan-kawan ayah yang kuantar ke bandara. Terngiang-ngiang kata-kata ayahku. Ayah akan empat bulan di luar negeri, berkeliling dari masjid ke masjid di Malaysia, India, dan kalau mungkin, Banglades. Hidup berdasarkan pemberian orang. Makan dan tidur di masjid. Kami tamu di sana. Setelah tiga hari sang tuan rumah boleh tidak menganggap tamu lagi. Artinya sang tamu harus pergi. Akan mencari masjid lain. Begitulah akan terjadi selama empat bulan. Ayah dan kawan-kawannya akan melalukan syiar agama dari masjid ke masjid di sana.

Suara adikku terdengar lagi. Adek sudah menuju bandara. Kita bertemu di bandara dan berangkat dengan pesawat pertama.

Aku merasa dia sudah mengendalikan diri. Agak tenang. Tetapi justru aku yang mulai tidak tenang. Penuh tekanan saat aku berusaha mengatakan sesuatu padanya. Seolah segala suka-duka keluargaku masuk ke dalam tekanan itu. Segera kukabarkan keluargaku yang lain. Kutelepon kakakku. Dia termenung mendengar kabar dariku. Bertanya. Lalu diam. Aku menyadarkannya kembali. Sebaiknya kita berangkat bersama. Ada pesawat Garuda pukul 14 siang ini. Aku menelepon lagi. Ayah sakit kritis, Jen. Beriap-siaplah. Kami yang di Jakarta akan berangkat segera ke Medan. Kalian yang dari luar kota sebaiknya berkumpul di Jakarta. Setidaknya menunggu kabar dari kami.

Seperti aku pertama kali mendengar kabar sakitnya ayah, adikku pun diam tak berkata-kata. Aku hanya mendengar nada kosong dalam telepon. Lalu suaranya yang sangat pelan. Aku berangkat hari ini juga. Jalan darat ke Jakarta.

Sebuah SMS masuk ke dalam teleponku.Aku membukanya sambil mengemudi. Aku tak mau melihat pengirimnya lagi. Pasti kabar tentang ayah. Mobilku tertahan di lampu merah di bawah jembatan flyover Kebayaron Lama. Aku membaca SMS itu, saat wajah seorang lelaki yang muncul tiba-tiba dari kaca kanan mobilku. Aku masih sempat membaca kalimat pertama.

Assalamualaikum. Nama saya Abdullah. Jemaah Majelis Tabligh dari Aceh...

Aku menyimak lelaki itu. Kehadirannya yang begitu mendadak membuatku kaget. Aku melihat tonjolan-tonjolan daging di sekujur tubuhnya. Kulit lelaki tua itu keriput dan menghitam. Penyakit kulit membuat tubuhnya rusak dan nampak mengerikan. Lidahnya terjulur di antara mulutnya yang lebar, membuatku merasa seolah lelaki itu bukan manusia. Tetapi ia adalah manusia. Hanya kehidupan telah mengalahkannya.

Lelaki itu tidak menunjukkan isyarat apa pun. Diam dan mematung di balik kaca mobilku. Matahari menusuknya. Tonjolan-tonjolan daging di tubuhnya melepuh dan mengeluarkan minyak. Ia tampak putus asa dengan keadaannya. Sorot matanya kosong tak menunjukkan keinginan. Seolah kehadirannya di tengah jalan itu hanya mekanis, dari sebuah pekerjaan rutin untuk meneruskan hidup. Aku merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Sikapnya yang memilukan itu membuatku tak sampai hati. Bagaimana menolong lelaki ini? Aku mulai menggenggam uang seratus ribu, sambil memikirkan lelaki itu. Aku kira lelaki seusianya sudah tidak pantas lagi di jalan raya. Tapi toh lelaki ini tetap di jalan raya. Ke manakah keluarganya, pikirku. Aku jadi teringat ayahku. Siapakah yang menolong ayah waktu sakit di luar negeri? Pasti berat sekali, ayah membawa tubuhnya sendiri.

Aku sangat menyesal, karena lampu hijau membuat aku harus meninggalkannya. Aku belum sempat memberikan uang seratus ribu itu. Mestinya aku tadi tidak sibuk berpikir. Tetapi aku telah berpikir dan uang itu tetap di tanganku.

Benarkah ini nomor Bapak Hudan, putera dari Bapak Jemat. Semoga benar. Saya sudah mengontak nomor-nomor di HP ayah kalian. Seseorang yang saya kontak menyebutkan antara lain nama Bapak...

Jadi, seseorang di Tanjung Balai telah menolong ayahku, dengan mengontak segala nomor yang ada di telepon seluler ayah.

Bapak Jemat sakit keras. Ayah kalian terbaring di klinik sederhana di Tanjung Balai. Segeralah ke sana sebelum semuanya terlambat.

Kalimat-kalimat akhir SMS itu bergaung dalam jiwaku. SMS itu mengingatkanku berita kematian ibu. Pagi itu aku sudah berada di mobil dengan istriku, menuju kantor. SMS itu masuk, hanya gabungan kata-kata, yang kalau kita hilangkan bagian-bagiannya tak memiliki arti apa pun. Hari-hariku sering disibukkan dengan memenggal-memenggalnya. Mengujinya apakah artinya masih dalam maknanya. Sering aku menghadapi gabungan kata "kematian" dalam kesepian kamar kerjaku di waktu malam. Saat istri dan anak-anaku sudah tertidur, aku naik ke atas dan masuk ke kamar kerjaku.’Di sanalah aku. Menguji kata atau kalimat yang kusukai untuk diriku. Kematian tidak menakutkan. Tidak lebih dari ujung sebuah perjalanan, di mana kita berhenti di suatu tempat. Perjalanan itulah kehidupan. Perhentian itulah kematian. Begitulah kalimat yang terbentang di meja kerjaku. Kalimat yang kusukai. Lalu aku memenggal-menggalnya. Kupisahkan katakata itu dan aku kini hanya menghadapi sebuah penggalan kata "kematian", "perhentian", dan "kehidupan". Gabungan huruf yang masih bermakna. Lalu kupenggal lagi. Kuhilangkan lagi sampai dia menjadi huruf-huruf mati dan hurufhidup. Terbentang di mejaku sesuatu yang tidak bermakna sama sekali. K, P, K, huruf dari sebuah awal yang bisa apa saja. Yang jelas sudah tidak menunjuk lagi fakta tentang kehidupan yang berhenti. Huruf atau kata yang terpenggal ini di mana menakutkannya? Tidak ada. Kita bisa santai menghadapinya. Kita bisa bermainmain dengannya. Mengisinya sesuka hati.

Tapi, pagi itu, aku diharu-biru oleh gabungankata-kata itu. Seakan kata-kata yang kupenggal itu seolah marah, seolah-olah dia makhluk bernyawa di mana penggalan yang kulakukan seakan telah membunuhnya. Menghisap darahnya, sehingga ia menggelepar tak berdaya. Dan, kini semua kata yang sering kupenggal itu bangkit menunjukkan dirinya. Menghantam tepat di pusat kesadaran jiwaku. Membuatku luluh-lantak. Begitulah kudengar berita kematian ibu melalui SMS itu. Aku seolah bermimpi. Seakan tak percaya kalimat-kalimat dalam SMS itu. Ibu kita telah tiada. Beliau menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Bengkulu...

Aku meledak dalam tangis yang mencekam. Aku sudah berusaha menahannya tapi tangis itu seolah makhluk bernyawa yang tak bisa kuhentikan. Aku memutar mobilku sambil menangis. Istriku menyabarkanku tapi tak lama kemudian dia pun ikut menangis. Anakku yang baru berusia 3 tahun mungkin menangkap dengan batinnya. Dia mengucapkan kata-kata dengan wajah anak yang tak mengerti. Ada apa Papa. Mana penjahatnya. Mari kita tembak penjahatnya. Istriku mengelus-elus kepala anakku. Dia belum tahu permainan orang dewasa dengan tangisnya. Tangis yang menyimpan riwayat kesalahan dan dendam. Tangis dari sebuah kehidupan yang tiba-tiba terputus. (*)
(Kenangan untuk ibuku)





My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Saturday, 22 December 2007

Sebuah Permainan dari Pakde

Tit. Titiit.
Nada itu terdengar dua kali. Pertanda ada SMS masuk di HP-nya. Dengan malas, diraihnya HP yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Jemarinya pun sibuk menekan tombol-tombol. Di kotak masuk tercantum sebuah nama. Nama yang akhir-akhir ini begitu lekat dengan dirinya. Pakde.


Dalam hitungan detik, dipencetlah tombol tengah di HP Nokia bututnya, tanda untuk membuka. Sebuah pesan singkat muncul di layar. Tampak jelas dengan warna hitam menyala dalam bentuk hologram. Satu per satu kata dibacanya. Hingga dia tertuju pada kata-kata terakhir dalam pesan singkat itu. "Apa artinya air matamu dibandingkan dengan sakitnya hatiku."

Kaget, HP pun diletakkan lagi dengan buru-buru. Dia tak menduga akan mendapat SMS seperti itu. Dalam diam, dia mulai berpikir tentang semua hal. Tentang pertemuannya dengan Pakde, tentang cintanya pada Pakde, tentang lamarannya Pakde dan tentang pertengkarannya dengan Pakde. Memang hubungannya dengan Pakde akhir-akhir ini memburuk. Mengapa dua orang yang saling mencintai lama-kelamaan bisa saling membenci dan menyakiti? Bagaimanakah arti dirinya bagi Pakde ?

Ketika seorang wanita menangis, berarti hatinya sedang terluka. Jiwanya sedang menjerit kesakitan. Bekasnya akan terasa begitu lama terpendam. Betapa air mata tak akan berarti apa-apa. Mengapa orang yang sangat dicintainya berkata seperti ini? Hatinya semakin hancur. Luluh lantak berkeping-keping.

Tak terasa, air mata mengalir di pelupuk matanya. Semakin lama semakin deras. Bagai aliran hujan yang membasahi hutan cemara di musim kemarau. Dingin dan basah. Mungkin inilah arti sebuah hubungan. Ada episode baik, ada episode buruk. Ada rasa yang manis, ada rasa yang teramat getir dan pahit. Dia harus menerima dan menelannya mentah-mentah demi sebuah kata ’aku masih mencintainya’.

Diraihnya kembali HP yang tadi disingkirkan. Ditekannya tombol reply. Jarinya mulai memainkan tuts-tuts huruf yang ada. Satu per satu hingga terangkai menjadi kata dan kata menjadi kalimat.

Aku mohon maaf atas semua salah dan khilafku. Lisanku yang tak terjaga, hatiku yang penuh prasangka, dan sikapku yang menyakitkan. Maafkan atas semua kebodohanku selama ini. Semoga masih ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya. Janji, aku tidak akan mengulanginya lagi.

Lama dia menunggu. Namun, hingga larut malam, tak ada SMS balasan. Dia pun terus mencoba. Entah untuk yang ke berapa kali. Tetapi, tetap tak ada jawaban. Jalan terakhir adalah menelepon. Ya. Mungkin Pakde mau mengangkat, pikirnya.

Terdengar nada sambung pribadi di ujung sana. Suara merdu Ebiet G. Ade. Satu, dua, tiga, hingga puluhan kali dia mencoba, tetap tak ada tanggapan. "Mungkin Pakde sedang tidur atau mungkin masih marah. Besok saja aku telepon lagi," gumamnya.

Dengan pipi yang masih sembab dan air mata yang terus menetes, dia terlelap tidur. Namun, dalam sepersekian detik, dia langsung teringat lagi tentang Pakde. Betapa semua memori otaknya, ruang-ruang terkecil sel-selnya telah terisi sebuah nama. Pakde.

Tidak boleh. Aku tidak boleh begini terus, batinnya. Lekas-lekas digerakkan kakinya ke belakang untuk mengambil air wudu. Betapa dingin dan menyegarkan. Hanya kepada Rabb-nya semua urusan dia kembalikan. Hanya kepada Rabb-nya, dia mencari kedamaian dan ketenangan hati. Satu, dua, tiga, sebelas rakaat dia tenggelam dalam sujud-sujudnya. Menikmati bercengkerama dengan kekasih sejatinya. Tangannya menengadah, lisan dan hatinya meminta jalan yang terbaik untuk semua masalah yang dihadapinya. Air mata berderai membasahi sajadah yang tergerai memanjang di hadapannya, seolah tiada hijab di antara mereka.

Lama sudah dia tertegun dan berharap bahwa semua akan kembali membaik. Tak sengaja, matanya tertuju pada lembaran kertas berwarna putih hijau yang terletak di samping tempat tidurnya. Jumlahnya tak kurang dari enam lembar. Pada lembar ketiga, dia menemukan sebuah kalimat yang menyentuh kalbunya. Kaum Hawa diciptakan dari rusuk Adam yang bengkok untuk diluruskan, bukan dari kepalanya untuk dijadikan atasnya, bukan dari kakinya untuk dijadikan alasnya, melainkan dari sisinya untuk dijadikan teman dalam hidupnya, dekat pada lengannya untuk dilindungi dan dekat pada hatinya untuk dicintainya.

Apakah Pakde mampu untuk menjalankan semua itu?

* * *

Setengah tujuh pagi dia memegang HP dan mulai mencari nomor Pakde. Lama sudah dia menelepon, namun tidak ada suara yang terdengar di ujung sana. Akhirnya diputuskan untuk mengirimkan SMS yang bertema sama: permintaan maaf. Tetapi, tetap tak ada jawaban.

Tiga hari kemudian, muncul pesan singkat. Sebenarnya aku merindukanmu, tapi aku tak ingin memikirkannya dulu. Aku ingin konsentrasi pada kerjaan. Dua hari lagi aku ada tes promosi jabatan.

Membaca SMS itu, ingatannya melayang pada acara ratu talk show Amerika Serikat yang ditayangkan salah satu stasiun TV swasta. Kala seorang pria sedang jatuh cinta, dia akan memperhatikan orang yang dicintainya tanpa terpengaruh pekerjaan atau hal-hal apa pun. Dan, ketika dia mulai menggunakan alasan pekerjaan untuk tidak menghubungi dan memperhatikan pasangannya, berarti dia tidak benar-benar mencintainya.

Namun, pikiran itu coba dibuangnya jauh-jauh. Itu hanya terjadi di dunia Barat, di sini pasti berbeda.

* * *.

Dua hari berlalu.

Selepas Isya, dia SMS menanyakan tentang tes Pakde. Betapa kaget ketika dia mendapatkan jawabannya. Nasibku jangan terlalu dipikirkan dan diurusi.

Pertanyaan kembali muncul di benaknya. Ada apa dengan Pakde? Adakah yang salah dengan pertanyaannya?

Logikanya dipaksa berjalan ke arah persaudaraan si kembar yang tidak selalu sama, walau mereka berasal dari satu telur. Apalagi dua anak manusia yang dibesarkan dalam kultur, nilai dan lingkungan yang berbeda seperti ini.

Karena tidak tahan dengan situasi ini, diputuskannya untuk menemui Pakde. Semuanya mengarah pada hubungan mereka. Semua keputusan diserahkan pada Pakde. Apa pun hasilnya akan dia terima dan hormati karena tidak sanggup lagi untuk menunggu.

Dengan nada suara yang datar dan tampak berhati-hati, terucaplah kata-kata itu dari bibir Pakde. "Aku sudah nggak bisa lagi jalan sama kamu. Terlalu banyak perbedaan di antara kita berdua. Semoga kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik daripada aku."

Dengan kepasrahan dan ketidakberdayaan, dia terima semuanya. Bulir-bulir bening itu kembali jatuh untuk kali kesekian. Walau sudah ditahan, tetap tidak berhenti. Kelenjar air matanya terpaksa memproduksi melebihi kapasitas hari itu.

Dengan mata yang masih sembab dan bengkak, dia mengumpulkan keberanian untuk menemui ibu Pakde, memberi tahu semuanya. Bersimpuh dia di kaki ibu Pakde sambil memohon maaf atas semuanya. Atas ketidakmampuannya memelihara amanah dan keinginan beliau.

Tangan-tangannya mengusap air mata di kedua pipi wanita paro baya di hadapannya. Wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri. Setelah memeluk dan mencium punggung tangan ibu Pakde, dia bergegas pamit pulang. Dengan langkah ringan, dia keluar dari rumah itu. Inilah tempat yang mungkin akan dirindukannya kelak. Bagaimanapun, hidup harus terus berjalan.

* * *

Dua puluh hari kemudian, pukul sebelas malam, dilihatnya sosok yang pernah mengisi hatinya melintas di depan rumah. Tampak Pakde begitu mesra berboncengan dengan seorang cewek menembus keheningan malam. Ada kehangatan dan kemesraan yang begitu nyata di antara mereka berdua. Tanpa ragu, nalurinya berkata bahwa perempuan itu pasti pacar barunya.

Ternyata, dugaannya selama ini salah besar. Gosip tentang Pakde yang playboy semakin jelas. Bahkan awal bulan lalu, ketika dia bersama kakaknya membelah udara kota mencari camilan, matanya tertuju pada mobil yang terparkir rapi di halaman sebuah bar. Lagi-lagi Pakde. Dia keluar bersama seorang perempuan berbeda. Tangannya bergelayut manja di pundaknya. Ada aura penuh kesenangan di antara mereka berdua.

Dia tersenyum. Mungkin bagi Pakde, hubungan dengan cewek-cewek hanyalah sebuah permainan. Ketika bosan, waktunya untuk mencari lagi yang baru. Tanpa komitmen dan tujuan yang jelas. Hanya bersenang-senang. Bila ditanya tentang pernikahan, dia tinggal menunjuk billboard besar iklan rokok yang terpasang di pertigaan jalan. Kapan kawin? Kapan-kapan. Itulah Pakde. Cinta baginya adalah sebuah permainan.

Dan, dia bersyukur tidak jatuh ke dalam permainan busuknya.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

37 Bukti Cinta Ultah buat Mama

Pagi yang cerah mengawali hari ini, hari Sabtu di Kota Pahlawan. Matahari bersinar dengan terik, mengisi kekosongan langit biru yang menyinari Kota Surabaya. Semua orang terlihat bersemangat pagi ini, seakan energi mereka terisi penuh untuk melakukan berbagai aktivitas. Tetapi tidak dengan Rama. Sejak terbangun dari tidur, sebuah kebingungan yang mendalam terus bersemayam di dalam kepalanya.



Rama adalah anak tunggal dari sebuah keluarga yang sederhana. Ayahnya telah lama meninggal karena sebuah kecelakaan kereta api. Kini, dia hanya tinggal berdua saja dengan mamanya di sebuah perumahan di Kota Surabaya. Sejak papanya meninggal, kondisi perekonomian mereka memburuk. Untung saja mama Rama masih memiliki pekerjaan, walaupun hanya sebagai guru di sebuah taman kanak-kanak.

Hari ini adalah hari Sabtu, 2 Februari. Hari ulang tahun mamanya. Rama bingung harus memberikan hadiah apa. Ternyata, inilah masalah Rama. Tiba-tiba saja terdengar langkah kaki mendekat menuju kamarnya. Kemudian, terdengar ketukan di pintu kamar Rama. "Ram, ayo bangun, sudah siang. Memangnya hari ini kamu nggak sekolah?" tanya sang mama sambil terus mengetuk pintu kamar dan menunggu jawaban. "Iya, Ma. Rama udah bangun!" sahut Rama.

Tak lama setelah itu terdengar langkah kaki mama Rama yang menjauhi kamar putranya. "Kayaknya Mama lupa kalau hari ini ulang tahun," kata Rama dalam hati. Maklum saja jika mama Rama tidak ingat hari ulang tahunnya. Sebab, setiap hari dia selalu dipusingkan dengan pekerjaan. Apalagi, mama Rama harus berperan sebagai single parent. Hal tersebut tentu sangat membebani pikirannya. Termotivasi dari hal itulah Rama ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun mamanya, hitung-hitung sebagai ungkapan terima kasih atas segala kasih sayang sang mama..

Rama pun bergegas mandi dan mengganti baju tidur dengan seragam sekolah. Kemudian, dia bergegas menuju meja makan. "Ayo cepat, dimakan nasi gorengnya. Kalau udah dingin nggak enak!" kata mama Rama "Iya, Ma, ini kan makanan kesukaan Rama. Jadi, pasti Rama abisin," jawab Rama.

Jam dinding menunjukkan pukul 06.30. Rama dan mamanya telah menyelesaikan sarapan pagi mereka. Lalu, keduanya bergegas pergi. Rama pergi ke sekolah, sedangkan mamanya pergi bekerja. Sebelum melangkahkan kaki ke luar rumah, Rama terlebih dahulu berpamitan dengan sang mama. Begitulah kesibukan Rama dan mamanya setiap pagi, kecuali pada hari libur.

Dalam berjalan menuju sekolahnya, Rama kembali teringat akan masalah yang telah memusingkan kepalanya sejak tadi pagi. Tepatnya, Rama masih belum menemukan hadiah yang cocok untuk diberikan kepada mamanya. Di kelas pun dia lebih sering melamun daripada memperhatikan setiap pelajaran.

Kring... kring... kring.... Bel sekolah berbunyi keras memberikan isyarat kepada siswa yang berada dalam kelas bahwa pelajaran telah berakhir. Seluruh murid pun berhamburan ke luar kelas, tak terkecuali Rama. Tetapi, ada yang berubah. Raut wajah Rama yang tadinya diliputi kebingungan kini berubah riang. Ternyata, Rama telah menemukan sebuah hadiah yang cocok untuk diberikan kepada mamanya.

Dia pun bergegas pulang. Sesampai di rumah, ternyata mamanya belum datang. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Rama untuk menyiapkan kejutan bagi mamanya. Tak lama setelah kejutan itu telah selesai, Rama membawanya ke taman kanak-kanak tempat mamanya bekerja. Dia langsung menuju ke kelas di mana mamanya mengajar. Diketuknya pintu kelas yang tertutup itu. Seketika itu juga, pintu terbuka. Alangkah terkejutnya mama Rama ketika melihat orang yang ada di balik pintu itu adalah putranya, Rama. Untuk beberapa saat, suasana kelas menjadi sunyi.

Rama datang dengan membawa sebuah kue tar besar dengan banyak hiasan yang terbuat dari cokelat. Di atas kue tar itu terdapat tiga puluh lima buah lilin kecil berwarna-warni. Lilin-lilin kecil itu mengelilingi dua lilin lain yang berukuran lebih besar dan berada di tengah kue tar itu.

"Ma, selamat ulang tahun ke-37, ya! Semoga panjang umur dan tetap sabar ngurusin Rama," ucap Rama. "Iya sayang, makasih ya!" balas mamanya sambil meneteskan air mata haru. "Tiga puluh lima lilin kecil ini mewakili cinta tiga puluh lima murid mama di kelas ini. Sedangkan dua lilin yang ada di tengah mewakili cinta papa dan Rama. Meskipun papa tidak dapat hadir di sini, Rama yakin kalau papa sudah memberikan doa sekaligus ucapan selamat buat Mama dari atas sana," kata Rama. "Jadi, Mama dapat hadiah 37 cinta di usia 37 tahun ini," tambah Rama. Sang Mama hanya bisa tersenyum dengan mata berkaca-kaca tanpa mengeluarkan kata-kata dan segera memeluk putranya. Sang Mama pun tersadar jika putra kecilnya kini telah tumbuh dewasa.





My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Pages