Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

Sunday, 24 February 2008

Download Film AYAT-AYAT Cinta

- Genre : Drama Religius Roman/Percintaan
- Pemain : Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Sazkia Mecca, Melanie Putri, Carrisa Putri, Surya Saputra, Oka Antara
- Sutradara : Hanung Bramantyo
- Penulis Naskah : Salman Aristo & Ginatri S. Noer dari Novel Karya Habiburrahman El Shirazy
- Produser : Manooj Punjabi
- Rumah Produksi : MD Pictures
- Durasi : -
- Klasifikasi Penonton : 13 Tahun Keatas (13+)
- Tanggal Rilis : 28 Februari 2008
- Sinopsis :

Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril) adalah mahasiswa S-2 di universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Selama ini perempuan yang dikenal dekat olehnya hanya ibu dan neneknya. Fahri memang sempat naksir perempuan di sekolahnya, namun apalah arti cinta monyet yang dipengaruhi oleh hormon testoteron, seorang remaja puber?


Menikah! Fahri memang ingin menikah dengan perempuan shalehah agar menyempurnakan setengah agamanya. Namun, untuk mencari bidadari itu Fahri belum sempat. Hidup Fahri penuh dengan target. Keluarganya telah mengorbankan nyaris segalanya agar dia bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Biaya untuk kuliah di Al-Azhar, Mesir di peroleh dari hasil menjual sawah warisan kakeknya. Untuk itu, Fahri membuat peta hidup, 2 tahun selesai master, 4 tahun selesai doktor dan 4 tahun selanjutnya menjadi guru besar. Menikah ketika dia menulis tesis magister. Berarti sekitar waktunya semakin dekat, namun siapa perempuan beruntung tersebut?

Ada cerita mengenai Maria Girgis (Carissa Putri), Kristen Koptik yang berperilaku amat Islami, senang membaca Al-Quran, bahkan hafal surat Maryam dan Al-Maidah. Lalu, ada Nurul (Melanie Putri), mahasiswi Indonesia di Al-Azhar juga. Pintar, baik hati, cantik, sibuk menjadi ketua Wihdah, namun masih ingin mengajar anak-anak membaca Al-Quran, terlebih lagi putri tunggal seorang pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Nurul diam-diam mencintai Fahri. Namun, tak pernah memiliki keberanian untuk mengatakan atau memberi sinyal kepada Fahri.

Kemudian Noura (Sazkia Mecca), tetangga depan flat Fahri, adalah perempuan cantik yang mengalami kekerasan dalam rumahnya oleh ayahnya, Bahadur. Sejak Fahri menolongnya keluar dari rumah itu dengan bantuan Maria dan Nurul, Noura pun jatuh cinta dan mengirimkan surat cinta kepadanya.

Namun, masih ada lagi… Fahri mengenal gadis terakhir ini di metro. Fahri menolongnya dari amukan warga Mesir, karena gadis bercadar ini tak tega dan memberikan kursinya kepada seorang ibu warga Amerika yang kepanasan. Sedangkan penumpang yang lain menganggap jika sekarang waktunya mereka memberikan pelajaran bagi turis Amerika itu atas apa yang dilakukan oleh negaranya.

Dan, siapakah perempuan itu? Bagaimana dengan perempuan-perempuan lain yang menaruh hati pada Fahri? Bagaimana dengan akhir cerita cinta yang religius ini? (Courtesy of RuangFilm)

Download Rapidshare :

CD 1

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5

CD 2

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5

CD 3

Part 1 | Part 2

Gunakan hjsplit untuk menggabungkan.

Download mirror lokal Indowebster :

CD 1 | CD 2 | CD 3






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Tuesday, 12 February 2008

Fantasi Investasi di Indonesia

Sampai awal 2008 ini ada dua masalah yang masih mengepung kondisi perekonomian Indonesia, yakni tingginya kemiskinan dan merosotnya investasi. Hal ini berhubungan dengan penyakit kronis lain, yakni pengangguran.

Hal itu tentu menarik untuk dicermati ketika berbagai upaya pemerintah memberi bantalan empuk bagi investasi ternyata belum berarti banyak. Ini terutama lewat beberapa peraturan pemerintah seperti PP No 76/2007 dan PP No 77/2007, yang diharapkan menjadi magnet bagi para investor sebagai sebuah kepastian hukum terhadap penanaman modal di Indonesia.


Sampai akhir 2007 penanaman modal asing (PMA) hanya sekitar USD 8,9 miliar, sedangkan penanaman modal dalam negeri Rp 44,6 triliun. Ini tentu menimbulkan pertanyaan, sudah sedemikian tidak menarikkah Indonesia di mata para investor?

Riwayat Investasi

Ketika hampir dua dasawarsa setelah Indonesia merdeka, pada 1957 dan 1959 terjadi proses nasionalisasi dari perusahaan Belanda dan perusahaan Inggris. Sebuah proses yang tidak saja menggeser kepemilikan, tetapi juga mengubah manajemen secara keseluruhan. Hal itu menyebabkan hengkangnya para eksekutif dan karyawan dari luar negeri.

Akibatnya, kita menghadapi kendala keterbatasan SDM hampir di semua lini manajemen dan tenaga terampil. Bukan hanya stagnasi yang terjadi, tapi juga kerusakan dan pembusukan perusahaan.

Tentu saja kebijakan yang diambil ini ikut andil menyeret kondisi ekonomi Indonesia memasuki masa buram, tingginya inflasi, dan rendahnya pertumbuhan ekonomi.

Pada 1966 terjadi pergantian pemimpin bangsa. Kondisi krisis yang semakin mendera rakyat disikapi pemerintah dengan mengeluarkan "kebijakan rehabilitasi dan penyelamatan," dan sekaligus mengubah cara pandang terhadap penanam modal asing (PMA). Demikian juga pandangan terhadap institusi keuangan multilateral seperti bank dunia.

Kebijakan ini berlangsung dari 1966 sampai 1970. UU Penanaman Modal diberlakukan pada 1967. Pada saat yang sama aset perusahaan swasta asing yang dinasionalisasi dikembalikan. Mulai saat itu investasi asing mengalir ke Indonesia, khususnya di sektor barang konsumsi.

Kemudian 1970-1997 perekonomian Indonesia dikaruniai laju pertumbuhan yang relatif tinggi cepat. Kebutuhan akan investasi asing semakin dirasakan di tengah keterbatasan peran negara dalam pembangunan.

Sampai dengan 1997 daya tarik investasi di Indonesia masih memikat. Terbukti pada tahun itu Indonesia menduduki urutan ketiga di bawah China dan AS sebagai negara tujuan investasi.

Sedangkan pada 2000, 2001, dan 2002, investasi mengalami penurunan, sehingga kita berada pada urutan keempat.

Kondisi itu terus menurun hingga ke urutan ketujuh, delapan, dan sembilan pada 2004, 2005, dan 2006. Akhirnya posisi kita berada di bawah India, Vietnam, dan Thailand. (Jetro, 2007).

Investasi sendiri dalam menopang perekonomian dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi. Pada 2003 sumbangan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi hanya 0,6 %, lalu meningkat 14,7 persen (2004), pada 2005 menyumbang 10,8 persen, dan pada 2006 turun tajam hanya 2,9 persen (BPS, 2007).

Kalau dilihat dari angka nilai penurunan investasi di Indonesia 2005, nilai investasi asing USD 8.914,6 juta, sedangkan dalam negeri Rp 30.665 miliar. Nilai tersebut turun pada 2006 untuk investasi asing USD 4.699,9 juta dan penanam modal dalam negeri hanya Ro 16.912,3 miliar.

Kebutuhan Investasi

Pada 2007 pemerintah memerlukan investasi Rp 958 triliun. Tapi, hanya Rp 120 triliun yang mampu disediakan pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Melihat kenyataan yang ada, tentu rasa waswas masih menyelimuti kita. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah terasa belum maksimal. Ruang nyaman yang disediakan pemerintah untuk investasi terasa belum banyak diminati para investor. Peraturan yang dibuat sebagai jalan tengah bertemunya antara gairah untuk berinvestasi dari asing maupun dalam negeri dengan hasrat pemerintah terhadap masuknya investasi terasa masih lengang.

Karena itu, untuk segera menciptakan kondisi kondusif bagi investasi, diperlukan langkah seperti mempercepat waktu yang diperlukan untuk mengurus izin.

Seperti diketahui, kita menempati urutan terbawah untuk kategori waktu yang diperlukan mengurus perizinan bagi para calon investor. Sementara negara-negara di ASEAN berusaha memperpendek waktu yang diperlukan untuk keperluan yang sama.

Di sini ternyata komitmen pemerintah untuk memberikan ruang dan suasana lebih nyaman untuk investor belum dibarengi perubahan perilaku para pengambil kebijakan. Karena itu, korupsi, kolusi, nepotisme, tampaknya masih tumbuh subur.

Tidak jarang pungli berbaju peraturan dan restribusi masih dipelihara beberapa pemerintah daerah melalui peraturan daerah (perda). Hal yang disebut terakhir itu tercium oleh pemerintah pusat sehingga ribuan peraturan daerah terpaksa dibatalkan, karena ditengarai penuh aroma untuk mengisap para investor.

Pada investasilah kita berharap pertumbuhan yang dicapai dapat menguapkan patologi pengangguran dan bermuara memangkas kemiskinan. Tanpa investasi pertumbuhan yang berkibar akan tampak bisu terhadap kubangan kemiskinan dan banjir pengangguran.

Sekali lagi, kita berharap agar hal-hal yang dapat mengurangi daya tarik investasi di Indonesia segera diakhiri. Dengan demikian, peraturan yang telah dikeluarkan pemerintah sebagai payung hukum tidak menjadi sia-sia belaka. Dan, investasi sebagai lokomotif pertumbuhan bukan hanya sebuah fantasi.





My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Sunday, 27 January 2008

Lu Pegang , Gue Hantam !!
















Dewi Perssik memang selalu terlihat seksi pada setiap penampilannya. Begitu juga ketika selesai bernyanyi di salah satu acara (23/01). Pedangdut yang sudah mengganti kostum panggung dengan baby doll mini ini langsung diserbu para pemburu berita. Janda muda ini juga sempat melakukan wawancara dengan para wartawan.



Setelah wawancara berakhir, Dewi pamit dan bergegas menuju mobilnya. Tanpa disangka-sangka ada tangan jahil yang memegang "bagian penting" wanita mungil ini. Tanpa menunggu lama Dewi langsung menggenggam tanganya dan memberi bogem mentah untuk laki-laki kurang ajar itu.



Kejadian itu sontak membuatnya kaget, Pemilik goyang gergaji ini menambah kecepatan langkahnya agar cepat sampai dimobil. Dari luar kaca mobil, terlihat mantan istri Saipul Jamil ini mengelap matanya menggunakan tisu.







My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Monday, 21 January 2008

Orang Gila + ANEH !!

Jaman gini masih ada gk orang yg aneh + GILA !! ,,


mungkin pertanyaan itu bisa kujawab dengan "ADA" ,,

nih dia salah satunya,, liat aja posenya pas difoto pake webcam di warnet,, sengaja di foto dengn webcam yang gk jelas... karena walaupun memakai webcam yang jelass... tetep aja mukanya gk jelas.......



mau liat gmn kegilaannya.... kunjungi aja blog nya nih ORGIL di http://triplehorn.blogspot.com





My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Tuesday, 15 January 2008

Super Milan !!


Superstar masa lalu, masa kini, dan masa depan. Titel itu ditujukan kepada Ronaldo, Kaka, dan Pato, trio AC Milan yang berasal dari Brazil. Ya, Rossoneri -julukan AC Milan- kini telah memiliki trio pemain bernaluri mencetak gol tinggi yang berasal dari tiga generasi. Kebetulan, trio tridente (tiga striker) itu sama-sama bergaya Samba Brazil.

Kehadiran Pato dan kembalinya performa Ronaldo membawa warna baru bagi lini depan AC Milan. Ronaldo berduet dengan Pato di depan dengan ditopang Kaka sebagai penyerang lubang. Klop. So, tim lain wajib mewaspadai kebangkitan Milan di paro kedua Serie A musim ini.


Trisula Maut itu telah membuktikan ketajaman mereka saat mengoyak jala Napoli hingga lima kali (skor akhir 5-2) pada giornata (pekan) ke-15 Serie A di Stadion San Siro dini hari kemarin (14/1). Presiden AC Milan Silvio Berlusconi menjamin tridente baru tersebut akan menjadi andalan Rossoneri pada laga-laga selanjutnya. "Kami sudah lama ingin menciptakan supertrio Brazil. Malam ini (dini hari kemarin WIB, Red), mimpi itu terealisasi. Hasilnya menunjukkan permainan yang sangat bagus," tutur Berlusconi.

Tampilnya Pato makin menambah kental aroma Samba di Milan. Tercatat, ada delapan pemain yang berasal dari Brazil. Selain trio penyerang tersebut, ada kiper Dida, Serginho, Cafu, Digao, dan Emerson. Selain itu, penampilan ciamik tridente Brazil tersebut membuat Berlusconi mengubah rencana untuk pembelian pemain baru.

Dia mengaku tidak membutuhkan gelandang serang Barcelona Ronaldinho. Saat ini, Milan lebih mengutamakan memperkuat lini belakang. Pemain yang diincar adalah bek Barcelona Gianluca Zambrotta. "Zambrotta bakal bergabung dengan kami Juni nanti, Dia sangat senang untuk datang ke San Siro (markas Milan, Red). Selain itu, masalah ini tak akan mengalami kendala untuk membuat deal dengan Barcelona," paparnya seperti dilansir Sky Italia.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Tuesday, 1 January 2008

Happy New Year... !!!


Happy New Year............!!!!


Selamat Jalan Tahun 2007, tahun yg penuh dengan bencana buat negeri tercintaku....
dan selamat datang tahun "KREATIFITAS" tahun 2008, semoga di tahun ini bencana tidak ada lagi berkurang.

sekali lagi... happy new year....


SEmoga apa yang kita impikan, dan yang tidak tercapai di tahun lalu... semoga di tahun ini akan tercapai....










My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Monday, 31 December 2007

Akhirnya AREMA ku masuk 8 besar juga...

Seperti inikah wajah-wajah persepakbolaan kita ???
kalo kalah... bersalaman jotos musuhnya ??...... cukup sudah lah... keributan-keributan di pertandingan sepakbola.

Tapi untung aja AREMA klub kebanggaanku bisa lolos ke 8 besar liga indonesia , keren de...... MUACHHH !!





My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor



Sunday, 30 December 2007

Para Korban Tsunami setelah Tiga Tahun Rehabilitasi dan Rekonstruksi

Menghitung Hari di Barak, Lelah Menunggu Janji
Pada 26 Desember 2007 hari ini, bencana gempa dan tsunami genap berusia tiga tahun. Tragedi memilukan itu merenggut sekitar 200 ribu jiwa penduduk Aceh. Sebagian korban yang selamat kini masih tinggal di barak-barak pengungsian dan belum mendapatkan rumah bantuan. Mari menengok kehidupan mereka.

***

RUANG itu pengap. Tidak ada sekat kamar dan dapur seperti layaknya sebuah rumah. Sebuah lemari tua dan beberapa potong pakaian ditempatkan di sudut ruang. Benda yang agak wah, sebuah televisi dan VCD player, diletakkan dekat sebuah rak berisi peralatan dapur. Semua barang itu berada dalam satu kamar berukuran sekitar 3 x 4 meter.


"Kalau hanya panas begini, itu sudah biasa," kata seorang perumpuan muda saat ditemui koran ini Kamis lalu. Dia tengah menidurkan anaknya di kamar itu. Udara panas yang terasa menyeruap siang itu tidak membuat perempuan bernama Nurhayati tersebut merasa gerah dan risau.

Di rumah shelter yang terletak di kawasan bantaran Krueng Aceh, Nurhayati tinggal bersama suami, ibu, seorang kakak, dan dua keponakan yang kini menjadi yatim piatu. Nurhayati adalah potret kecil nestapa para korban tsunami di Aceh yang hingga kini masih tinggal di pengungsian.

Selain wanita itu, ada puluhan penghuni shelter lain yang juga tinggal di sana. Sebagian besar di antara mereka adalah warga Desa Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala. Shelter-shelter itu dibangun berjejal dan terlihat sudah usang. Mereka, tampaknya, masih harus meretas jalan panjang untuk meraih kembali kehidupan yang normal.

Proyek rekonstruksi BRR Aceh-Nias ternyata belum sepenuhnya dapat memenuhi hak-hak para korban di provinsi berjuluk Serambi Makkah itu. "Sebenarnya, kami sudah lelah menunggu. Sampai kapan harus terus di sini," ujar wanita itu, lirih.

Sebelum menempati rumah shelter di kawasan itu, Nur bersama korban tsunami asal Alue Naga lainnya juga berpindah-pindah mengungsi. Awalnya, mereka mengungsi di kawasan Masjid Ulee Kareng. Beberapa bulan kemudian berpindah ke barak Desa Neuhen, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. "Sebagian besar warga kemudian kembali ke kampung membangun tempat tinggal seadanya. Mereka tidak betah di sana karena sulit mencari kerja," kata Musliadi, 20, kakak kandung Nurhayati.

Musliadi juga tinggal dan tidur di rumah shelter bersama adiknya. Lelaki ini tidak punya pilihan lain setelah rumah mereka di kawasan Dusun Kutaran rata dengan tanah diterjang tsunami. Bahkan, sebagian daratan di kampung itu telah dimakan laut.

Akhir tahun 2007 ini, Musliadi mendapat kabar melegakan. Rumah mereka di Dusun Kutaran sudah hampir siap dibangun. Tapi, kabar gembira itu tak membuat mereka lega. Apalagi ketersediaan air bersih dan listrik masih menjadi kendala utama bagi warga setempat. "Belum tentu ada warga yang mau kembali ke kampung. Selain soal air bersih dan listrik, masih ada yang merasa takut dan trauma," jelasnya.

Lebaran Idul Adha kemarin yang semestinya mereka rayakan dalam suasana gembira terlewatkan begitu saja. Tidak ada nuansa kegembiraan yang tergambar di raut wajah para pengungsi Alue Naga itu. "Ada atau tidak ada lebaran buat kami di sini sama saja," kata Maryati, 32, yang kini masih tinggal di barak pengungsian di kawasan Simpang Mesra, Lingke.

Ibu dua anak itu juga tidak tahu sampai kapan dirinya terus bertahan di barak pengungsian. Maryati mengaku hanya pasrah menjalani hari-harinya dengan penuh harapan tidak pasti.

"Kami sudah lelah menunggu. Biar saja begini. Kalau masih punya hati, tentu pemerintah tidak tega melihat rakyatnya yang hidup seperti ini," kata wanita yang kehilangan dua anaknya dalam bencana tsunami tiga tahun lalu itu.

Untuk menambah fasilitas, beberapa penghuni barak malah sudah memiliki dapur masing-masing yang mereka bangun sendiri, tidak jauh dari lokasi kamar barak.

Bagi Maryati, sebelum tinggal di barak, dirinya juga mengungsi ke Masjid Ulee Kareng. Kemudian berpindah ke Masjid Jamik Kampus Unsyiah.

Senasib dengan korban tsunami Alue Naga lainnya, ibu itu juga mengaku belum mendapatkan rumah bantuan. Dia hanya mendengar kabar bahwa setelah Lebaran Idul Adha, kegiatan pembangunan rumah di Alue Naga akan dilanjutkan. Artinya, itu enam bulan lagi menunggu. "Tapi, semua ini juga belum pasti. Karena kami hanya mendengar kabarnya begitu," ucap ibu tersebut, pesimistis.

Cerita Abdullah tak beda banyak. Sebenarnya, dia sudah mendapatkan rumah bantuan dari sebuah NGO. Tapi, sosok 57 tahun itu tidak kunjung menempatinya. Penyebabnya, kawasan Dusun Kutaran masih sering digenangi air laut ketika musim pasang tiba karena tidak ada tanggul penahan ombak.

"Kalaupun ada yang mau pindah, itu hanya karena terpaksa. Sebab, mereka sehari-hari bekerja sebagai nelayan," kata Abdullah yang sebelum tsunami bekerja sebagai penarik becak motor.

Kini, dia juga terpaksa menghabiskan hari-harinya bersama istri dan anak semata wayang, Adek Mirna, 11 bulan, di sebuah rumah shelter. "Dua anak saya hilang saat tsunami lalu. Ini membuat saya selalu sedih setiap tahun karena jasad mereka sampai sekarang tidak pernah ditemukan," ujar Abdullah yang kini tinggal di kawasan bantaran Krueng Aceh, bersama pengungsi Alue Naga lainnya.

Menurut Abdullah, saat ini di Dusun Kutaran, telah dibangun sekitar 73 unit rumah. Jumlah tersebut masuk tahap pertama dari jumlah sekitar 300 unit yang akan dibangun. Artinya, sebagian besar warga masih belum bisa memperoleh rumah.

Nasib tidak jauh berbeda dirasakan Fitria, 22, dan Sulaiman, 43. Kedua korban tsunami ini hingga sekarang juga masih menempati barak pengungsian Bakoy, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Fitria mengaku sedikit lebih beruntung karena saat ini ada sebuah NGO yang memberinya bantuan rumah di kawasan Labui, Aceh Besar. "Walaupun belum kami tempati, kami merasa sudah punya harapan untuk bisa memiliki sebuah rumah baru. Kami berharap bisa segera menempatinya," kata Fitria yang sebelum tsunami mengaku sempat kewalahan membiayai kontrakan di Kampung Baru.

Dia pun merasa bersyukur karena waktu yang dihabiskan selama tiga tahun di barak ternyata tidak sia-sia. Berbeda halnya dengan Sulaiman. Lelaki asal Kahju ini belum mengetahui pasti apakah akan terus menetap di barak atau sampai kapan harus menunggu. "Sampai sekarang belum jelas," ujar lelaki itu.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

JEDA - Aduh, Macet

DI NEGERI Belanda, dan di negara Eropa lainnya, orang-orang berjalan kaki atau naik sepeda merupakan pemandangan sehari-hari yang sangat lumrah. Seorang nenek tua mendorong kereta belanja dari rumahnya ke toko swalayan sejauh 2 km pulang pergi untuk membeli kebutuhan sehari-hari adalah pemandangan biasa. Berjalan kaki di sana tidak dianggap menurunkan gengsi. Bukankah Tuhan memberi kaki memang untuk ber jalan? Sedangkan yang diangkat atau dibawaoleh kaki adalah tubuh sendiri. Apa ruginya berjalan kaki untuk memenuhi keperluan sendiri. Di samping itu, jalan kaki atau naik sepeda bisa menjadi pengganti senam, yang membuat obot-otot dan syaraf tidak kaku.

Karena itu, di Eropa orang-orang lalulalang berjalan kaki tidak ada hubungannya dengan status sosial dan lain-lain. Di Indonesia, ada juga orang tidak merasa turun harga dirinya karena naik sepeda. Contohnya, almarhum Pak Umar Kayam yang pernah menjabat Direktur Jendral Radio Televisi dan Film, setelah kembali mengajar di UGM sering naik sepeda. Oktober lalu, ketika seminar pada Festival Kesenian Yogyakarta, penyair Afrizal Malna mengatakan ingin kembali mengayuh sepeda.


Seandainya pernyataan Afrizal itu diucapkan di Belanda, barangkali tidak menarik. Ketika diucapkan di Indonesia menjadi menarik karena negeri ini sekarang sudah kebanjiran kendaraan bermotor, mulai sepeda motor, sedan, dan lainlain. Akibatnya, kebutuhan akan bahan bakar minyak semakin meningkat, dan udara semakin tercemar oleh asap kendaraan dan otoamtis lingkungan semakin tak ramah. Kota-kota besar pada jam-jam tertentu bisa dipastikan macet, karena jalan-jalan yang tersedia tidak sesuai dengan banyaknya kendaraan yang akan lewat.

Bisa dibayangkan, betapa macet akan menjadi masalah rumit sepuluh atau lima belas tahun ke depan kalau jumlah kendaraan di negeri ini terus bertambah dan terus bertambah. Meskipun didirikan perguruan tinggi "anti macet", kalau budaya "bermotor pribadi" terus berkembang tanpa kendali, maka macet tidak akan bisa dikendalikan oleh siapa pun.

Di Singapura dan Belanda orang-orang sudah merasa puas bepergian dengan kendaraan umum. Tidak punya mobil dan tidak punya kendaraan pribadi, orang tidak merasa malu. Naik mobil pribadi dengan naik kendaraan umum dipandang sama, yang penting sampai tujuan.

Saya tidak tahu, apakah soal macet ini sudah dipikirkan secara serius oleh orang-orang yang berwenang. Maksudnya, bagaimana menangani macet yang sudah terjadi dan bagaimana mengantisipasi macet ke depan. Upaya-upaya preventif model apa yang akan digunakan untuk mencegah dan menangkal macet pada tahun-tahun yang akan datang.

Jika macet ini dibiarkan dan dibiarkan terus tanpa ada upaya ilmiah dan sekaligus upaya konkret untuk mengatasi seluruh macet, jelas itu sikap yang tidak bertanggung jawab. Karena macet itusendiri bukan sekadar kendaraan yang berjubel karena tidak bisa lewat, lebih dari itu ada latar belakang budaya yang mendorong terjadinya macet.

Kebiasaan hidup konsumtif, budaya latah pada kehidupan modern tanpa menangkap esensi modernitas, serta sikap antisosial dan lain-lain, bisa memberi ruang dan peluang bagi macet untuk makin berkuasa. Jika adanya kendaraan bermotor itu sebagai tanda kegagahan dari kehidupan modern, sebenarnya ilmu-ilmu pengetahuan modern juga harus mampu dan gagah mengurus macet dan kemacetan yang sering menghantui dan membekukan jalanan. Modernitas itu sendiri tidak bisa berlepas tangan atas ekses-ekses yang ditimbulkannya.

Banyaknya kendaraan umum yang menjangkau ke belbagai penjuru dengan manajemen dan aturan yang dipatuhi dengan baik, ditunjang kendaraan pribadi yang jumlahnya disesuaikan dengan hasil studi kelayakan, serta akal sehat yang menepis rasa gengsi yang tidak proporsional, dan ditunjang oleh integritas moral seluruh masyarakat, akan membuat macet lambat laun bisa diatasi bersama.

Berbicara tentang gengsi dan macet, saya jadi teringat Dijck van der Mij, seorang Belanda yang telah tinggal di Jakarta. Orang yang bergaji puluhan juta rupiah itu pernah ditanya, kenapa ia tidak membeli mobil, padahal sudah sepantasnya ia punya mobil pribadi.

"Saya lebih praktis naik kendaraan umum. Dengan demikian saya tidak perlu berpikir tentang mobil, tak perlu antre bensin, panggil sopir, dan lain-lain. Saya lebih pas tidak punya mobil," jawabnya.

Andaikan paham seperti itu banyak yang menirunya tanpa sikap latah, tentu macet bisa diusir dari Indonesia, dan nantinya tak perlu dinyatakan menjadi bencana nasional.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Wednesday, 26 December 2007

Becermin kepada Kampung Belong

BEBERAPA hari lagi, tahun 2007 berlalu meninggalkan kita. Selama setahun ini kita tidak hanya menjadi saksi apa yang sudah dilakukan pemerintah, tapi juga langsung merasakan sendiri dampaknya. Baik yang positif maupun negatif. Yang menyenangkan maupun malah menyengsarakan. Bahkan, dengan mudah rakyat bisa memberikan skor, menilai sukses atau gagalnya program pemerintah.

Sekilas, beberapa program pemerintah pada 2007 tampak berjalan dengan baik. Meskipun tidak baik-baik sekali. Sayang, pembangunan yang dilaksanakan pemerintah selama 2007 masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Yakni, masih fokus pada fisik dan penguatan ekonomi. Mulai pembangunan dan pengembangan berbagai infrastruktur, peningkatan produksi pangan, diversifikasi dan konversi energi, hingga penataan lembaga kepartaian. Kalau boleh menyebut, reformasi yang dilakukan pemerintah saat ini baru sebatas pada ranah ekonomi, politik, dan sedikit di bidang hukum.



Sementara reformasi sosial masih jauh api daripada panggang. Boleh dibilang, ranah sosial yang tecermin dalam pembangunan nonfisik saat ini masih terabaikan.

Kebijakan tersebut mengakibatkan pembangunan berjalan timpang. Di satu sisi, ekonomi nasional makin kuat dan infrastruktur meningkat. Tapi, di sisi lain, terjadi keterpurukan peradaban di tengah masyarakat kita. Moral bangsa kian terdegradasi. Budaya kekerasan yang bersemi sejak meletusnya gerakan reformasi pada 1998 bukannya makin terkikis, tapi malah tumbuh subur.

Saat ini sekecil apa pun gesekan yang terjadi rentan menimbulkan kekerasan. Entah itu gesekan pemikiran, ideologi, politik, hingga fisik. Semua berpotensi memicu percikan violence.

***

Sejumlah aksi kekerasan selama medio 2007 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tapi juga korban jiwa yang tidak sedikit. Contoh terkini, peristiwa eksekusi tanah berdarah di Kampung Belong, Desa Rumbia, Kecamatan Jeneponto, Sulsel. Eksekusi tanah pada 6 Desember 2007 itu berakhir dengan bentrokan antara warga dan aparat. Seorang polisi, Briptu Dasrin, tewas ditusuk warga. Sejumlah polisi dan warga juga terluka parah hingga ringan.

Tragedi Kampung Belong tersebut bukan yang pertama terjadi. Hampir setiap pelaksanaan eksekusi tanah/bangunan diwarnai aksi kekerasan. Kekerasan oleh aparat terhadap warga dan demikian sebaliknya. Ironisnya, meski berulang-ulang terjadi, hingga kini belum tampak formula baru untuk mengatasi. Aparat masih saja melakukan tindakan represif dan intimidatif setiap melaksanakan eksekusi. Sedangkan warga yang lahannya dieksekusi belum melek hukum sehingga kurang dewasa dalam menyikapi vonis persidangan sengketa lahan. Lantas, dengan sekuat tenaga, ia melawan terhadap upaya eksekusi.

Modus-modus kekerasan juga masih sering dipertontonkan aparat setiap melakukan penertiban. Mulai penertiban rumah dan gubuk liar yang berdiri di tanah milik pemerintah/orang hingga penertiban PKL (pedagang kaki lima). Adu fisik antara aparat dan PKL serta perobohan bangunan/gubuk secara paksa selalu mewarnai aksi penertiban.

Pemandangan kekerasan juga terlalu sering terlihat dalam aksi-aksi demonstrasi. Baik yang digelar mahasiswa hingga warga di pelosok desa. Kekerasan yang mereka tontonkan bukan hanya aksi fisik, tapi juga kekerasan verbal. Bahkan, kalimat-kalimat hujatan dan provokasi yang mereka teriakkan lebih menyakitkan dibandingkan dengan kekerasan fisik.

Pertanyaannya sekarang, sampai kapan budaya kekerasan itu berlangsung. Tidak bisakah diciptakan formula yang lebih manusiawi dalam menyelesaikan setiap riak-riak yang muncul. Atau, memang bangsa ini sedang sakit kronis; sudah mati rasa persaudaraannya dan sudah putus saraf kemanusiaannya sehingga segala persoalan memang harus diselesaikan dengan kekerasan.

Pertanyaan berikutnya, mengapa pemerintah terkesan tutup mata terhadap aksi kekerasan yang trennya kian marak dari tahu ke tahun. Adakah pemerintah sengaja memelihara budaya kekerasan yang kini mulai merambah ke semua ranah, mulai fisik, ideologi, pemikiran, dan politik. Tujuannya agar rakyat sibuk dengan teror kekerasan dan tidak lagi punya kesempatan untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Yang pasti, kekerasan hanya akan mempertahankan lingkaran kejahatan. Cara kekerasan (dalam bentuk apa pun) tidak akan pernah menghasilkan keadilan dan perdamaian. Bukankah terciptanya keadilan dan perdamaian hampir selalu masuk teks pidato pemimpin negeri ini.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Evaluasi 2007 dan Perspektif 2008

Titik Balik Desentralisasi
Tahun 2007 merupakan titik balik dari perjalanan desentralisasi. Penarikan mundur agenda desentralisasi secara radikal-fundamental, sebagaimana dikehendaki UU No 22/1999, telah dilakukan pada 2004 ketika UU tersebut dicabut dan digantikan dengan UU No 32 Tahun 2004. Waktu itu, penulis mencoba berprasangka baik, bertahan untuk tidak ikut menuduh telah terjadi resentralisasi. Spirit yang terkandung dalam UU No 32/2004 sempat penulis maknai sebagai pengurangan radikalitas desentralisasi. Maklum, UU No 22/1999 dibuat dalam suasana kritis (ketidakberdayaan pemerintah pusat) yang berhadapan dengan kemarahan daerah lepas dari belenggu. Euforia!


Pada 2007, diberlakukan dua peraturan pemerintah (PP) yang menjabarkan UU 32/2004. Ketika kedua PP tersebut diberlakukan, tidak ada lagi alasan untuk menyangkal bahwa resentralisasi telah berlangsung. Kedua PP itu adalah (1) PP No 38 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota dan (2) PP No 41 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Diberlakukannya kedua PP tersebut menandai terpasangnya kembali fondasi pemerintahan sentralistis, yang hendak dibongkar melalui UU No 22/1999. Hal yang tadinya ditolak saat ini justru dijadikan fondasi dalam penataan pemerintahan daerah.

Apa yang sebetulnya hendak dibongkar UU No 22/1999? Tidak lain ialah supremasi birokrasi atas demokrasi. Birokrasi, baik dalam eksistensi sebagai kekuatan politik maupun sebagai tata kerja pemerintah, hendak didemokratisasikan. Birokrasi dituntut untuk melakukan perubahan agar demokrasi bisa tumbuh subur di negeri ini. Waktu itu ditetapkan bahwa gubernur bukanlah atasan bupati/wali kota. Idenya, birokrasi lebih mementingkan substansi persoalan, bukan bersembunyi di balik formalisme dan kepatuhan buta pada hierarkis. Waktu itu, pemerintah pusat diharapkan mengubah organisasi dan cara kerjanya sehingga "sekadar" mengurusi hal-hal strategis dan mengerangkai kiprah daerah-daerah otonom. Tetapi, justru itulah yang tidak terjadi.

Lantas, apa yang telah kita saksikan pada 2007 ini? Meskipun kita memiliki Dewan Perwakilan Daerah (DPD), pemerintahan di tingkat pusat tidak terbingkai sebagai konsensus yang terajut secara lintas daerah. Kesatuan Indonesia tidak ingin dibangun melalui konsensus antardaerah, melainkan melalui kesatuan kendali, melalui kepatuhan pada atasan. PP 38/2007 membakukan bahwa daerah bukanlah entitas yang kewenangannya dijamin UU dan harus dihormati serta difasilitasi pemerintah pusat.

Pemerintahan daerah adalah penyelenggara urusan pemerintahan, yang pada dasarnya milik pemerintah pusat. Semua urusan yang diselenggarakan pemerintah daerah, sekiranya diperlukan, bisa diselenggarakan pemerintah pusat. Penyusunan PP itu sebetulnya telah melalui proses yang partisipatif dan bisa dimaklumi kalau agak terlambat.

Sungguh pun demikian, isinya tetap saja mencerminkan supremasi cara pikir birokratis bahwa daerah adalah instrumen penyelenggara kewenangan birokrasi tingkat pusat, bukan entitas yang berdemokrasi, dan harus difasilitasi pemerintah pusat.

Dengan menetapkan bahwa urusan yang ditangani pemerintahan daerah pada dasarnya adalah juga urusan yang bisa ditangani pemerintah pusat, secara diam-diam, birokrasi daerah bisa menjalankan fungsi dekonsentrasi. Fungsi pemerintah pusat diselenggarakan aparatur di daerah.

PP 41/2007 mengatur organisasi perangkat daerah. PP itu mencoba membakukan nomenklatur agar pemerintah pusat tidak lagi bingung ketika berkomunikasi dengan pemerintah daerah. Lebih dari itu, jumlah unit penyelenggara pemerintahan daerah juga dibatasi secara relatif ketat.

Apa artinya hal-hal tersebut di atas? Sudahlah tata kewenangan pemerintahan daerah diatur secara ketat, organisasi yang menyelenggarakannya juga relatif terbakukan. Artinya, perjalanan pemerintahan daerah tinggal bergantung pada apa mau pemerintah pusat. Selamat bersiap untuk mengenang otonomi daerah!

Menarik untuk dicatat, kedua PP yang menandai titik balik proses desentralisasi itu mendapat sambutan positif dari kalangan birokrasi lokal. Kenyamanan mereka sebagai birokrat, sebagaimana yang dirasakan di masa Orde Baru, kini hampir terpulihkan.

Sementara itu, politisi yang duduk di DPRD terus saja menggerutu. Mereka yang secara resmi duduk di lembaga perwakilan rakyat mempersoalkan ruang untuk berdemokrasi. Pasalnya, meskipun mereka dipilih rakyat, pada dasarnya mereka tunduk pada jajaran eksekutif di Departemen Dalam Negeri. Relatif lemahnya kapasitas individual maupun kapasitas kelembagaan yang dimiliki DPRD telah menjadi justifikasi untuk membiarkan birokrasi menguasai demokrasi.

UU yang seambisius UU No 22/1999 memang tidak bisa diimplementasikan dengan baik dan masuk akal untuk diredakan obsesinya. Namun, kembali ke tatanan Orde Baru bukanlah pilihan tepat. Tata pemerintahan daerah pada masa mendatang semakin mirip dengan prototipe tatanan sentralistis. Kalau kita tidak ingin terbentur pada krisis yang sama dengan yang melahirkan UU No 22/1999, sebaiknya eksponen pusat maupun daerah mengembangkan kapasitas dirinya untuk belajar, merefleksi apa yang telah terjadi.

Tata pemerintahan lokal yang desentralisasi adalah keniscayaan. Agar perubahan tata pemerintahan tidak didiktekan lagi oleh krisis, eksponen pusat maupun daerah dituntut untuk bisa keluar dari situasi paradoksal yang tergambar di balik semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tidak boleh lagi kebinekaan dikebiri demi terulangnya kembali kesalahan Orde Baru: memercayai birokrasi ortodoks wadah otonomi.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Tuesday, 25 December 2007

Refleksi Natal 2007

Jangan Kaya dan Suci Seorang Diri
Tiap Desember, berbagi mal di kota-kota besar kita sudah dipenuhi beragam pernak-pernik Natal. Bahkan, di sebuah mal di Surabaya ada pohon Natal yang dibuat dengan 387 kursi . Pasti, akan ada yang menampilkan pohon Natal dengan kreasi yang lebih unik. Kalau perlu, bisa menorehkan rekor Muri.

Bukan hanya pohon Natal. Mode dan kuliner Natal pun tak mau ketinggalan. Kalau di Osaka, Jepang, pernah ada kue Natal senilai Rp 7,6 miliar, di Jakarta atau Surabaya juga tersedia hidangan Natal sekali makan seharga Rp 5 juta. Malah, yang agak ironis, hari besar umat kristiani itu juga dirayakan di bar atau diskotek, yang tentu bisa kita gugat apa motifnya.



Memang, komersialisasi dan kapitalisasi mendompleng dan membajak makna Natal yang sejati. Sehingga, Yesus pun jadi semacam barang komoditas untuk diperjualbelikan. Konyolnya, seolah dengan pergi ke mal atau bar, orang dikesankan sudah merayakan Natal. Fenomena tersebut tak hanya memonopoli metropolis, tapi jadi kecenderungan global yang susah dihentikan.

Lagi pula, untuk apa menghentikan kecenderungan seperti itu? Maka, tulisan ini tidak hendak melarang atau mencekal Yesus di mal. Sama sekali tidak. Tulisan ini hanya hendak mengingatkan, mungkin ada yang mau diingatkan. Silakan saja belanja di mal atau makan dan minum untuk menikmati kuliner dengan tujuan menambah semarak Natal. Namun, jangan pernah melupakan makna Natal yang sejati.

Natal dalam perspektif iman kristiani merupakan hari ketika Tuhan mau berempati, solider, serta peduli dengan nasib manusia yang lemah dan miskin. Karena itu, Yesus tidak pernah terlahir di mal atau kamar hotel berbintang lima dalam kondisi serba wah. Tapi, bayi Yesus lahir di kandang binatang di sudut Kota Betlehem di bumi Palestina. Yang pertama menyambut kedatangannya bukanlah SPG atau pelayan mal, tapi justru para gembala.

Gembala ialah simbol rakyat biasa, sederhana, bahkan miskin. Pada kelahirannya, Yesus justru menyapa orang-orang biasa, lemah, dan miskin. Sebenarnya, hanya dengan spirit menjadi lemah dan miskin seperti itu, umat kristiani bisa menggali makna sejati Natal. Kondisi lemah dan miskin seperti itu dilukiskan dengan bagus oleh Ernesto Cardenal, penyair dari Amerika Latin. Dalam Das Buch von der Liebe, Lateinamerikanische Pslamen, Erenesto menulis:

Kemiskinan dan kondisi lemah adalah keadaan asli manusia di firdaus, ketika manusia pertama Adam telanjang dan berkawan dengan binatang yang juga telanjang. Sesudah jatuh dalam dosa, manusia tak lagi telanjang. Sesungguhnya, kemiskinan dan kondisi lemah adalah kebenaran. Sementara, kekayaan adalah tipuan yang menutupi kebenaran. Kita menghiasi diri dengan baju materi untuk menutupi jiwa kita yang telanjang. Kepalsuan adalah sinonim bagi kelekatan akan harta. Busana mahal dan rumah mewah adalah penipu yang memalsukan keadaan material, layar yang menutupi kesederhanaan. Dalam kemiskinan, bersinar cahaya kesejatian. Dalam kekayaan, cahaya itu dipudarkan. Kemiskinan membuat diri kita nyata.

Meski begitu, kemiskinan dan kelemahan seperti itu jangan pernah ditafsirkan seolah iman Kristen antiharta atau antiuang. Tidak! Menurut Ernesto, semua itu hanya upaya penyadaran akan eksistensi sejati kaum beriman di hadapan sang Khalik.

Di hadapan-Nya, kita sebagai manusia bukanlah apa-apa. Di hadapan-Nya, uang, simpanan di bank, busana mahal, dan segala embel-embel tak menjadi kriteria utama. Semua milik-Nya. Dengan demikian, ketika dihadapkan pada kondisi apa pun, kita semua akan sadar bahwa hanya ada satu hal yang kita butuhkan, yaitu belas kasih Allah.

Kalau kita bicara kondisi umat kristiani di negeri ini, bisa dikatakan mayoritas adalah kelas menengah, yakni punya rumah dan penghasilan cukup. Bahkan, beberapa nama masuk jadi konglomerat meski tidak tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes (Jawa Pos, 14 Desember 2007). Kondisi tersebut merupakan berkah tersendiri yang layak disyukuri.

Namun, menjadi pengikut Yesus tidak dipanggil untuk kaya atau suci seorang diri, apalagi di tengah kondisi miskin yang masih dialami oleh 37,7 juta warga negeri ini. Kemiskinan di negeri kita sering dipicu oleh ketidakadilan. Untuk itu, setiap pengikut-Nya sudah layak dan sepantasnya meneladani solidaritas dan kepedulian-Nya. Bukan malah terjebak dalam setiap bentuk komersialisasi Natal yang hanya menekankan pada kesenangan diri sendiri dan cuek terhadap sesama yang miskin dan lemah.


Tom Saptaatmaja, pegiat lintas agama, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang dan Seminari St Vincent de Paul.





My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Sunday, 23 December 2007

Hari Big Match

Busyet...... Hari ini akan digelar dua pertandingan yang sangat amat ... ...panas n yang pastinya seru abis....(waduh,bakalan begadang lagi nih.....) yakni pertandingan antar REAL MADRID vs Barcelona , dan satu lagi pertandingan antara AC MILAN vs Inter Milan,
klub yang saya tulis dengan cetak tebal adalah yang saya unggulkan...^^ hahahahaha Bravo Milanisti............

JAdi?? ikutan begadang gk??






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Saturday, 22 December 2007

Menghormati Martabat Kaum Ibu

Tiap tanggal 22 Desember masyarakat diingatkan agar tidak melupakan kaum ibu. Karena itu, tiap 22 Desember dijadikan sebagai Hari Ibu. Hari "seremonial" untuk mengingatkan kita kepada kaum ibu.

Persoalannya, apakah kaum ibu memang sering dilupakan sehingga perlu diingatkan? Tidak demikian. Dalam hal ini, yang dimaksud "jangan melupakan kaum ibu" ialah jangan memarginalkan martabat kaum ibu.

Mamarginalkan bukan sekadar tidak memberikan tempat terhormat kepada kaum ibu untuk memerankan karir nondomestiknya atau tidak menyejajarkan kemampuannya dengan kaum laki-laki. Justru yang lebih penting ialah memedulikan dan memberikan empati yang lebih egaliter.

Di masa lalu perlakuan tidak egaliter terhadap kaum ibu bisa diartikan mereka (ibu-ibu) selalu diberi peran di belakang suami. Tidak boleh berkarir di luar rumah. Cukup menjadi ibu "yang baik" sebagai pembimbing sosial, moral, dan psikologis anak-anak agar menjadi generasi muda yang berkualitas.

Oleh sebab itu -di masa lalu- dengan dalih kaum ibu harus memberikan perhatian kepada anak-anak di rumah dan menjaga keutuhan rumah tangga, kompetensi dan kapasitas kaum ibu dikorbankan. Tidak perlu "berprestasi" di luar rumah. Cukup menjadi ibunya anak-anak dan ibunya bapak ketika di rumah.

Kini perspektif terminologi "empati yang egaliter" diperluas. Bagaimana menafsirkan perluasan makna empati yang lebih egaliter? Antara lain, memberikan tempat yang lebih terhormat dan lebih peduli kepada ibu-ibu agar mereka dapat memainkan peran yang lebih besar, jauh melampaui peran tradisional dan tugas-tugas domestiknya di rumah tangga.

Bahkan kini terminologi memberikan "empati yang lebih egaliter" diperluas lagi. Yakni, memberikan peran yang lebih sejajar atau melampaui bapak-bapak tanpa ruang yang terbuka bagi munculnya diskriminasi gender dan tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun yang sarat dengan arogansi kekuasaan kaum bapak.

Entah disengaja atau tidak di tengah kian menguatnya kesadaran tentang perhormatan yang tinggi terhadap hak-hak asasi manusia (HAM), masih sering terjadi perlakuan fisik dan psikologis yang merusak martabat kaum ibu.

Masih ada kaum ibu yang "disiksa" kaum bapak. Masih banyak kaum ibu yang ditampar kaum bapak. Banyak pula ibu dipaksa "bekerja" di luar rumah tanpa memedulikan keamanan dan keselamatan mereka. Bahkan, tanpa perlindungan hukum yang adil dan beradab.

Hari Ibu tanggal 22 Desember -yang diperingati setiap tahun- tidak memiliki makna sedikit pun jika refleksinya lebih banyak berupa aksi dan kegiatan seremonial.

Hari Ibu tanggal 22 justru lebih bermakna terhormat jika dijadikan media untuk memberdayakan ingatan -setiap tahun- agar kaum bapak dan kalangan warga negara yang lain lebih peduli guna menghormati martabat kaum ibu.

Jika menghormati martabat kaum ibu merupakan keniscayaan, segala bentuk tindakan yang dapat menistakan fisik, psikis, dan moral kaum ibu harus bisa dicegah.

Pada perspektif seperti itulah, kita perlu memperingati Hari Ibu. Menumbuhkan kesadaran baru dan meningkatkan komitmen yang lebih tinggi guna menjunjung martabat kaum ibu. Tanpa kesadaran demikian, tidak ada gunanya Hari Ibu 22 Desember kita peringati tiap tahun.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Pages