Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Sunday, 24 February 2008

Download Film AYAT-AYAT Cinta

- Genre : Drama Religius Roman/Percintaan
- Pemain : Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Sazkia Mecca, Melanie Putri, Carrisa Putri, Surya Saputra, Oka Antara
- Sutradara : Hanung Bramantyo
- Penulis Naskah : Salman Aristo & Ginatri S. Noer dari Novel Karya Habiburrahman El Shirazy
- Produser : Manooj Punjabi
- Rumah Produksi : MD Pictures
- Durasi : -
- Klasifikasi Penonton : 13 Tahun Keatas (13+)
- Tanggal Rilis : 28 Februari 2008
- Sinopsis :

Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril) adalah mahasiswa S-2 di universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Selama ini perempuan yang dikenal dekat olehnya hanya ibu dan neneknya. Fahri memang sempat naksir perempuan di sekolahnya, namun apalah arti cinta monyet yang dipengaruhi oleh hormon testoteron, seorang remaja puber?


Menikah! Fahri memang ingin menikah dengan perempuan shalehah agar menyempurnakan setengah agamanya. Namun, untuk mencari bidadari itu Fahri belum sempat. Hidup Fahri penuh dengan target. Keluarganya telah mengorbankan nyaris segalanya agar dia bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Biaya untuk kuliah di Al-Azhar, Mesir di peroleh dari hasil menjual sawah warisan kakeknya. Untuk itu, Fahri membuat peta hidup, 2 tahun selesai master, 4 tahun selesai doktor dan 4 tahun selanjutnya menjadi guru besar. Menikah ketika dia menulis tesis magister. Berarti sekitar waktunya semakin dekat, namun siapa perempuan beruntung tersebut?

Ada cerita mengenai Maria Girgis (Carissa Putri), Kristen Koptik yang berperilaku amat Islami, senang membaca Al-Quran, bahkan hafal surat Maryam dan Al-Maidah. Lalu, ada Nurul (Melanie Putri), mahasiswi Indonesia di Al-Azhar juga. Pintar, baik hati, cantik, sibuk menjadi ketua Wihdah, namun masih ingin mengajar anak-anak membaca Al-Quran, terlebih lagi putri tunggal seorang pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Nurul diam-diam mencintai Fahri. Namun, tak pernah memiliki keberanian untuk mengatakan atau memberi sinyal kepada Fahri.

Kemudian Noura (Sazkia Mecca), tetangga depan flat Fahri, adalah perempuan cantik yang mengalami kekerasan dalam rumahnya oleh ayahnya, Bahadur. Sejak Fahri menolongnya keluar dari rumah itu dengan bantuan Maria dan Nurul, Noura pun jatuh cinta dan mengirimkan surat cinta kepadanya.

Namun, masih ada lagi… Fahri mengenal gadis terakhir ini di metro. Fahri menolongnya dari amukan warga Mesir, karena gadis bercadar ini tak tega dan memberikan kursinya kepada seorang ibu warga Amerika yang kepanasan. Sedangkan penumpang yang lain menganggap jika sekarang waktunya mereka memberikan pelajaran bagi turis Amerika itu atas apa yang dilakukan oleh negaranya.

Dan, siapakah perempuan itu? Bagaimana dengan perempuan-perempuan lain yang menaruh hati pada Fahri? Bagaimana dengan akhir cerita cinta yang religius ini? (Courtesy of RuangFilm)

Download Rapidshare :

CD 1

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5

CD 2

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5

CD 3

Part 1 | Part 2

Gunakan hjsplit untuk menggabungkan.

Download mirror lokal Indowebster :

CD 1 | CD 2 | CD 3






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Wednesday, 6 February 2008

Soeharto Wafat di Mata Pelarian Politik

Soeharto telah pergi selamanya. Saya terima berita itu lewat sms dari kawan yang ada di Indonesia, saat jam Moskow menunjuk angka 09.00 pagi, tepat pada 27 Januari 2008. Sejurus kemudian, sms kembali datang. Kali ini datang dari Malaysia. Isinya kurang lebih sama. Mereka mengabarkan bahwa Soeharto baru saja meninggal.

Tidak ada yang istimewa dari meninggalnya Soeharto, kecuali bahwa dia adalah pribadi yang sarat dengan kontroversi; dicaci sekaligus dipuji, dihujat sekaligus disanjung. Ya, Soeharto adalah pemimpin diktator dengan tangan besi dan strateginya yang mampu berkuasa hingga tiga puluh tahun lebih.

Tetapi, bagi korban ketidakadilan politik Soeharto, kematian sang mantan presiden tetap menyisakan kenelangsaan yang amat dalam. Meski dalam ketegaran dan keniscayaan, kepergian abadi Soeharto menjadi berita muskil yang tetap menarik untuk dituntaskan, terlebih bagi Moskow, kota yang selama ini menjadi pelarian lawan-lawan politik sang diktator.


Soeharto, Moskow, dan Mahasiswa Kepergian Soeharto membuat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow menjadi sibuk menerima karangan bunga belasungkawa dari semua kedutaan asing di Moskow. Ternyata, kepergian sang diktator melahirkan banyak empati dan kesedihan berbagai negara.

Paling tidak jika bunga masih dianggap sebagai simbol penghormatan dan bukan basa-basi politik diplomasi kenegaraan. KBRI melaksanakan salat gaib pada 28 Desember, pukul 13.00 waktu Moskow, untuk mendoakan sang mantan presiden.

Akan tetapi, perasaan mendalam yang dirasakan kedutaan asing di Moskow dan orang-orang KBRI ternyata tidak sepenuhnya dirasakan mahasiswa Indonesia di Rusia. Tidak ada ritual, tidak ada doa, juga tidak ada gempita sebagai tanda duka atau "bahagia" dari mahasiswa atas kepergian sang mantan presiden. Bukan mereka tidak tahu kabar, tetapi memang mereka tidak mau tahu atas matinya sang bapak pembangunan.

"Orang sudah meninggal, ngapain juga dibicarakan," itulah ungkapan singkat yang saya peroleh dari salah seorang kawan mahasiswa yang sedang belajar di Moskow ketika saya menawarkan untuk mengajak diskusi tentang Soeharto.

"Sudahlah kita tidak usah bikin diskusi segala. Kita sekarang lagi musim libur nih. Pingin nyantai lha," ungkap mahasiswa lain.

Tentu itu menarik, mengingat Soeharto dan mahasiswa Indonesia memiliki sejarah politik yang panjang. Soeharto naik singgasana dan berkuasa, salah satunya, karena gerakan mahasiswa angkatan 1966. Soeharto juga jatuh dan tumbang, salah satunya, disebabkan gerakan mahasiswa angkatan 1998.

Apakah apatisme mahasiswa Moskow sebagai bentuk kebencian atas sang mantan presiden? Ataukah ini memang telah menjadi ciri mahasiswa kita sekarang, yang memang tidak mau peduli dengan peristiwa yang terjadi pada negaranya? Bisa jadi keduanya; kebencian sekaligus tak peduli karena letih.

Bagaimanapun, Soeharto menyisakan kebencian bagi mahasiswa Indonesia, khususnya angkatan 1998. Selama berkuasa, Soeharto telah melakukan tindakan represif dan tak jarang menangkap mahasiswa dan memenjarakannya.

Tentu, tindakan sang mantan presiden masih membekas dalam ingatan mahasiswa Indonesia. Dia menjadi dendam politik yang teramat panjang sehingga tidak lagi mampu melahirkan doa atau empati saat Soeharto pergi untuk selamanya.

Sementara itu, proses hukum Soeharto yang sekarang sedang berlangsung tidak lebih dari sekadar isu politik bagi partai politik untuk menghadirkan respek publik menjelang 2009. Dia hanya menjadi sinetron yang bisa dibaca ending ceritanya, tidak menghasilkan akhir bagi keadilan rakyat. Itulah yang membuat mahasiswa tidak lagi peduli (apatis) karena tuntutan yang diajukan atas kasus hukum Soeharto akan selalu patah oleh sirkus politik di Senayan. Mereka telah letih.

Orang-Orang yang Kalah

Kematian Soeharto ternyata juga menjadi dendam lirih tersendiri bagi eks pelarian politik di zamannya. Meninggalnya dia menjadikan kepasrahan yang berharap balas pada sakit hati yang mereka terima. Meski tidak ambisius, orang-orang yang tersingkir secara politik di zaman sang presiden berkuasa berharap keadilan pada kekuatan dari segala kekuatan.

Lihat, SMS yang saya terima dari salah seseorang bapak yang tersingkirkan di zaman Orde Baru yang sekarang tinggal di Moskow, ketika dia bicara tentang kabar meninggalnya Soeharto.

"Komentar apalagi, tak ada yang abadi. Semua akan berubah, baik atau buruk, kalau tidak, kan berada di tempat, sama juga dengan mati. Kalau dia percaya agama biar dia selesaikan dengan Tuhan. Kekuatan pihak mana yang lebih kuat di antara yang masih hidup. Inilah yang menentukan perkembangan selanjutnya."

Begitulah, betapa lirih dan berharap sang bapak terhadap nasibnya yang selama ini "dibunuh" Soeharto. Meski tidak ada kata dendam, sang bapak ingin ada sejarah yang lebih adil atas tindakan-tindakan Soeharto yang selama ini diterimanya. Dia sadar tak berkuasa secara politik untuk melakukan langkah hukum atas perbuatan Soeharto, tetapi dia masih berharap pada rezim sekarang meski ada keraguan dalam dirinya.

Akan tetapi, dalam ragu, sang bapak masih percaya bahwa ada TUHAN yang akan memberikan rasa keadilan. "Kalau dia percaya agama biar dia selesaikan dengan TUHAN," katanya lirih. Jika demikian adanya, sang bapak masih yakin agama mampu menyelesaikan segalanya, termasuk ketidakadilan yang selama ini diterimanya.

Apakah kepasrahan sang bapak terhadap Tuhan adalah bentuk ketawakalan atau hanya perlawanan orang-orang yang kalah, setelah sekian lama dia hidup dalam pengasingan? Bisa jadi, apa yang diungkapkan sang bapak merupakan bentuk kepercayaan dia pada Tuhan yang akan, dan pasti, bisa menyelesaikan semuanya.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Sunday, 27 January 2008

Mantan Presiden Soeharto Meninggal Dunia

Setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sejak 4 Januari 2008, mantan Presiden Soeharto akhirnya tak dapat melawan sakit yang dideritanya. Penguasa Orde Baru itu pun menghembuskan nafas terakhir pada Minggu (27/1/2008) pukul 13.10 WIB.

" Pak Harto meninggal dunia pukul 13.10 WIB," ujar Kapolsek Kebayoran Baru Dicky Sondani, di RSPP, Jakarta, Minggu (27/1/2008)

Soeharto dilarikan ke RSPP pada Jumat (4/1/2008) pukul 14.15 WIB dan mendapat perawatan di ruang president suite VVIP nomor 536 lantai V RSPP. Soeharto dirawat karena mengalami penimbunan cairan di tubuhnya yang mengakibatkan pembengkakkan dan menurunnya kadar darah merah (hemoglobin).



Keadaan Soeharto sempat membaik setelah tim dokter mengeluarkan cairan di tubuhnya. Soeharto masih dapat tersenyum dan berbicara meskipun hanya dalam kalimat-kalimat pendek. Namun kesehatannya kembali mengalami penurunan pada Senin pagi (7/1). Kondisi itu ditandai dengan menurunnya produksi urin dan penumpukan cairan di paru-paru. Selain itu penurunan kondisi kesehatan Soeharto juga ditandai dengan dijumpainya pendarahan melalui urin dan feses sehingga hemoglobin yang awalnya berhasil dinaikan menjadi turun kembali.

Penurunan kesehatan ini, disebabkan tubuh Pak Harto yang mengalami ketergantungan pada alat bantu dan obat-obatan.Tim dokter telah berupaya mengurangi keberadaan alat bantu di tubuh Pak Harto.Langkah tersebut justru membuat kondisi tubuh Pak Harto semakin menurun. Namun seminggu terakhir, kondisi Soeharto dikabarkan berangsur pulih, karena tim dokter berhasil mengendalikan infeksi di tubuh Soeharto

Namun pada Minggu pagi ini, tim dokter menyatakan sejak pukul 01.00 WIB Soeharto mengalami sesak nafas, dan tekanan darah yang mengalami penurunan. Tim dokter juga menyatakan sistem pernafasan Soeharto diabil alih 100% oleh alat bantu pernafasan.Namun akhirnya pada pukul13.10 WIB ini Soeharto tak dapat tertolong lagi.

Soeharto tutup usia di usia ke 86 tahun. Lahir di Kemusuk Argo Mulyo 8 Juni 1921, Ia dilantik sebagai Presiden pada tanggal 27 Maret 1968 dan berkuasa hingga 32 tahun sebelum akhirnya lengser oleh gelombang demonstrasi mahasiswa pada 1998.

Soeharto menikah dengan Suhartini dan memiliki enam orang anak. Yaitu Sigit Harjojudanto, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi (Titik), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).





My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Monday, 31 December 2007

Sudah Saatnya Kita Membangun "MUSEUM KORUPSI"

AWAL 2008 boleh dikatakan akan menjadi babak baru dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Saat itu kepemimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di bawah ketua baru, Jaksa Antasari Azhar, mulai bekerja. Banyak kritik kepada Antasari sudah disampaikan. Apa boleh buat, kita harus menerima kepemimpinan Antasari karena prosedurnya sudah dipenuhi.

Anggap saja, badai kritik dan keraguan kepada Antasari adalah cermin harapan tinggi pemberantasan korupsi. Dulu, ketika Taufiequrachman Ruki dkk dipilih, kritik dan sinisme serupa juga terjadi. Maklum, sering badan-badan antikorupsi tak efektif. Beberapa kali Indonesia membentuk komisi serupa, tapi mengecewakan. Tapi, toh, Ruki dkk bisa menunjukkan kinerja cukup membesarkan hati. Bolehlah Ruki dkk dinilai 75, lulus cukup memuaskan. Sepanjang sejarah Indonesia, baru kali ini ada upaya pemberantasan korupsi yang serius dan tegas.


Selain KPK, instansi lain, yakni kejaksaan dan kepolisian, juga turut bersemangat bekerja memberantas korupsi. Hasilnya memang tidak segegap gempita KPK. Tapi, persaingan ini baik. Semoga saja, tumbuhnya semangat di instansi-instansi hukum untuk menumpas korupsi itu juga diikuti profesionalitas. Dengan begitu, tuduhan pilih kasih atau tebang pilih bisa dihindarkan.

(Istilah "tebang pilih" sebenarnya bermakna positif karena merupakan kebijakan untuk menebang pohon-pohon di hutan secara terpilih sehingga kelestarian hutan terjaga. Tapi, ketika dikenakan kepada korupsi, istilah itu "terkorup" juga).

Di tengah upaya meneruskan penindakan perlu diingat bahwa salah satu aspek langkah antikorupsi adalah "perjuangan antara ingat melawan lupa". Karena begitu banyaknya kasus korupsi, seolah-olah kini perkara korupsi makin dianggap biasa. Kita tak mampu mencerap informasi yang sangat banyak dalam pemberantasan korupsi dari Sabang sampai Merauke. Dengan makin banyaknya perkara korupsi, ketertarikan kita kepada kasus korupsi juga bisa mengendur. Tentu, sikap "lupa" itu kurang mendukung upaya memerangi korupsi.

Salah satu alat perjuangan melawan "lupa" adalah museum korupsi. Segala hal terkait dengan penindakan korupsi seharusnya terdokumentasi dan ter-display dengan baik. Museum korupsi bisa memberikan aspek pengingat "abadi" dalam pemberantasan korupsi. Pengabadian itu bisa memberikan sanksi penjara tambahan kepada siapa pun yang akan bertindak korup. Bagi penegak hukum, pemuseuman perjuangan mereka juga akan menambah semangat. Tak kalah heroiknya dengan adegan-adegan dalam museum perang. Dan, bagi masyarakat, akan menjadi isyarat bahwa perbuatan korupsi itu tak bisa ditoleransi dan bisa berkonsekuensi abadi di museum.

Bila pengabadian dan pendokumentasian yang digarap khusus tidak dilakukan, bisa jadi akan terjadi simpang siur sejarah pemberantasan korupsi kita. Kita sudah cukup kenyang dengan simpang siur sejarah politik bangsa kita. Sampai-sampai tafsir siapa pahlawan, siapa pengkhianat bisa dikaburkan sesuai dengan kepentingan sendiri. Ingat, dokumen sepenting Supersemar pun hilang. Meskipun ada kecurigaan sengaja dihilangkan, yang jelas itu bisa terjadi karena tak ada pendokumentasian yang baik.

Siapa pun bisa mewujudkan museum korupsi. Apalagi, KPK bisa dimasukkan ke bagian edukasi antikorupsi kepada masyarakat. Seperti diketahui, KPK tak hanya bertugas menindak korupsi, tapi juga mengampanyekan gaya hidup bebas korupsi.

Museum merupakan tempat yang tepat karena bisa dikunjungi siapa saja. Baik orang umum, para siswa, mahasiswa, periset, tamu asing, wartawan, maupun peminat lainnya. Pewujudan museum korupsi itu bisa lebih efektif daripada gagasan kurikulum antikorupsi di sekolah. Kurikulum siswa kita sudah sangat berat. Mengunjungi museum korupsi ada aspek rekreatifnya. Setara dengan melihat tulang belulang monyet atau kadal purba di museum sejarah alam. Bedanya, museum korupsi memberikan pelajaran moral, sedangkan museum alam memberikan pengetahuan alamiah.

Kalau museum korupsi tersebut terwujud, bisa jadi itu yang pertama di dunia. Ketika saya mencari museum khusus korupsi di internet, tidak ketemu. Di Tiongkok yang paling getol memberantas korupsi juga belum ada. Kalau korupsi di museum, tak hanya terjadi di Indonesia (kasus dugaan pemalsuan patung). Di Taiwan juga pernah terjadi, namun manipulasi harga dalam konstruksi museum.

Di Tiongkok, langkah tambahan setelah penindakan yang dilakukan barulah melelang barang-barang koruptor secara berkala. Biasanya, itu terdiri atas barang-barang mewah, berupa perhiasan dari emas, intan, atau batu mulia. Tak hanya barang koruptor yang dilelang, tapi juga milik istri, suami, atau "simpanan"-nya.

Sebagai bangsa yang berkali-kali dinilai termasuk terkorup di seluruh dunia, layaklah kita menjadi pelopor pendirian museum korupsi. Setidaknya dari segi bahan apa yang akan ditempatkan di museum itu, kita pasti tak akan kekurangan. Saking banyaknya, bisa saja museum korupsi didirikan di Jakarta dan juga di daerah-daerah. Itu bisa mulai dirintis pada 2008. Jangan menunggu perkara korupsi kian menggunung dan merepotkan pendokumentasiannya.

Apa saja yang akan ditempatkan di museum itu, tentu saja, ada "pahlawan" dan "penjahat". Pahlawannya adalah penegak hukum atau politisi bersih, seperti Mohammad Hatta atau Baharuddin Lopa. Penjahatnya adalah para koruptor. Agar tidak kontroversial, mereka yang foto atau patungnya dipajang di sana adalah yang sudah divonis bersalah. Jadi, ada peluang para kepala daerah dan pejabat yang ternyata menjadi aktor utama korupsi 2007 (Jawa Pos, 29/12) masuk ke sana. Atau, bisa juga dibeberkan kasus-kasus yang divonis bebas agar juga menjadi pelajaran bagi generasi penerus penegak hukum.

Tiap kasus yang menimpa koruptor dilengkapi dengan deskripsi kasus dan, kalau perlu, contoh barang-barang yang dikorup. Ada foto rumah mewah hasil korupsi, ember tempat menaruh uang jutaan dalam kasus Bulog, ada foto terdakwa mengantuk saat divonis, deretan foto-foto kepala daerah yang masuk bui, ada ekspresi koruptor saat terjebak rekaman KPK, dan semacamnya. Alangkah kuat pesan antikorupsi yang disampaikan dengan display tersebut?

Museum korupsi adalah bagian dari museum sejarah perjuangan bangsa melawan kanker jahat dalam diri sendiri.***






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Saturday, 22 December 2007

Pembuat Bencana

Selain tsunami, gempa, gunung meletus, yang merupakan bencana murni, masih banyak bencana lain yang menyengsarakan manusia. Hal itu merupakan konsekuensi logis dari ulah tidak benar manusia.

Telusurilah dari mana asalnya banjir. Dulu, ketika alam masih murni, hutan-hutan lebat memenuhi separo alam, banjir kiriman tidak terlalu ganas saat melintas dan melibas kehidupan. Tetapi, begitu pohon-pohon di hutan ditebang, secara liar maupun seizin yang berwenang, banjir kiriman dari tahun ke tahun makin perkasa menyengsarakan manusia.

Atau kita perhatikan air sungai yang dulu jernih, sekarang kotor karena tercermari limbah sehingga tidak layak lagi direnangi anak-anak. Anak-anak negeri yang manis itu seperti kesulitan dan terlarang untuk berenang di sungai yang diwariskan nenek moyang.

Kita juga mengharapkan munculnya bibit-bibit unggul pemain sepakbola yang legendaris seperti Ramang pada 1950-an, tetapi lapangan untuk anak-anak kecil bermain bola sudah ditamani rumah-rumah megah. Anak-anak sulit untuk mengembangkan bakatnya dalam olahraga yang nantinya bisa diharap mengharumkan kehormatan bangsa. Anak-anak yang tidak berdosa itu kini banyak yang tidak punya lahan kreatif untuk berlatih di atas tanah air yang diwariskan para pahlawan.

Siapa bilang, banjir, limbah, dan sempitnya anak-anak mengembangkan bakat itu bukan bencana? Sementara sebagian bencana itu secara nyata telah menyengsarakan. Namun anehnya, bencana itu sering didatangkan sendiri oleh orang-orang terdidik dan berpengetahuan. Yang menggunduli bukit dan menanaminya dengan villa megah bukan orang jelata yang tidak berilmu. Yang mengebor bumi dan kemudian menghasilkan luberan lumpur jutaan kubik itu bukan penyabit rumput. Yang mencemari sungai dengan limbah, bukan buruh tani yang sehari-hari mencari upah. Yang merakit bom mematikan itu, bukan kuli pelabuhan. Yang melakukan korupsi bukan si tunanetra yang tukang pijat.

Semua dilakukan orang-orang berilmu yang bertahun-tahun menimba ilmu di sekolah dan di perguruan tinggi. Jika kerusakan dan bencana itu akibat ulah sebagian orang yang mengecap pendidikan, salahkah jika ada pertanyaan, benarkah sekolah-sekolah didirikan hanya untuk mencetak orang-orang pembuat bencana?

Pertanyaan itu tentu saja salah, karena tidak semua orang sekolahan perbuatannya menimbulkan bencana. Yang terjadi adalah, sebagian orang terdidik telah menyumbang bencana. Padahal, awal mula didirikannya sekolah dan perguruan tinggi untuk mencetak kader-kader bangsa yang mampu memakmurkan tanah air, mampu merawat bumi dan laut, untuk menjadi sumber daya alam yang bisa membuat seluruh bangsa tersenyum dan bahagia.

Apa yang kurang benar pada pelaksanaan pendidikan kita? Hal itu menjadi pertanda bahwa pendidikan merawat batin, pendidikan membentuk karakter dan etos menyelamatkan tanah air perlu diupayakan. Pendidikan mengembangkan diri secara kreatif anak didik yang berorientasi pada keuntungan fisik dan materi, tanpa memberi ruang bagi pengembangan akal budi dan kepribadian yang menghormati kemanusiaan, sangat mungkin menghasilkan cerdik pandai yang tidak peduli kepada keselamatan bangsa dan tanah airnya.

Jika kita benar-benar mau mengurus bangsa dan negara ini untuk kembali menjadi bangsa yang terhormat, salah satu cara yang perlu kita kembangkan ialah budaya santun menjadi karakter dan merek positif bangsa ini. Urusan ini jelas bukan tugas orang per orang, tetapi perlu ada gerakan budaya untuk mengembalikan bangsa ini berakhlak santun. Punya integritas moral yang tidak sekadar diajarkan seperti penataran. Tapi benar-benar berupa penanaman penghayatan yang bisa berurat dan berakar di dalam kalbu dan bisa menjadi refleksi bagi kehidupan bersama.

Hasil "pendidikan" yang bukan sekadar "pelajaran" moral, tentunya akan lebih menjanjikan dalam mencetak putra-putra bangsa yang berjasa, yang kalau mati sangat pantas disebut pahlawan.






My Blog | My Friend`s Blog | My Review Blog

My Updates Blog Everyday
Info Handphone | Info Tentang Internet | Kumpulan Artikel Motivasi | Kumpulan Humor

Pages